Emas dan Perak Dilanda Aksi Jual di Tengah Ketegangan Global
Poin Penting
|
NEW YORK, Investortrust.id - Harga emas dan perak turun tajam pada Kamis (19/3/2026) seiring aksi jual besar-besaran di pasar global, dipicu kekhawatiran perang di Timur Tengah dan tekanan inflasi yang mendorong investor melepas aset safe haven.
Logam mulia tersebut mengalami tekanan di tengah meningkatnya sentimen penghindaran risiko, ketika investor memilih likuiditas di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Harga perak turun lebih dari 3% menjadi US$ 72,62 per ons, sementara kontrak berjangka perak melemah lebih dari 8% dan ditutup di US$ 71,25 per ons. Secara keseluruhan, emas dan perak masing-masing melemah sekitar 5% dan 10% dalam perdagangan.
Tekanan juga meluas ke instrumen terkait, termasuk saham pertambangan dan exchange traded fund (ETF), yaitu reksa dana yang diperdagangkan di bursa seperti saham. ETF ProShares Ultra Silver turun sekitar 20% pada prapasar, sementara ETF iShares Silver Trust melemah 4,4%. ETF Aberdeen Physical Silver Shares juga turun lebih dari 4%.
Saham perusahaan tambang, seperti First Majestic Silver dan Coeur Mining masing-masing turun lebih dari 6% dan 5%. Di Eropa, tekanan serupa terlihat pada indeks Stoxx Europe Basic Resources yang melemah 6%. Saham Fresnillo turun 9,3%, sementara Antofagasta melemah 8,2%, mencerminkan pelemahan sektor pertambangan secara luas.
Baca Juga
Aksi jual ini terjadi bersamaan dengan penurunan saham global dan obligasi pemerintah, menunjukkan tekanan pasar yang meluas. Investor mencermati konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memasuki minggu ketiga, dengan risiko gangguan energi yang dapat memperburuk inflasi global.
Harga minyak dan gas sempat melonjak setelah fasilitas energi di Iran dan Qatar terdampak serangan, memperkuat kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Bank sentral global turut mencermati perkembangan tersebut. Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga dan menyebut dampak konflik sebagai “tidak pasti”. Bank of Japan juga menahan suku bunga sambil menyoroti peningkatan risiko inflasi akibat konflik.
Di Eropa, sejumlah bank sentral termasuk Bank of England dan European Central Bank dijadwalkan memperbarui kebijakan moneternya. Sementara itu, Swiss National Bank mempertahankan suku bunga di 0% dan membuka peluang intervensi di pasar valuta asing.
Meskipun sempat mencatat reli kuat sepanjang 2025 dengan kenaikan masing-masing 66% dan 135%, emas dan perak mengalami volatilitas tinggi sepanjang 2026. Perak bahkan mencatat penurunan harian terbesar sejak 1980-an pada akhir Januari.
Managing Director Kingswood Group Paul Surguy menilai aksi jual mencerminkan fase lanjutan dari penyesuaian portofolio investor. Ia mengatakan pasar global sedang mengalami likuidasi aset, termasuk aset safe haven. “Pasar global telah menyaksikan aksi jual besar-besaran karena investor mencari aset yang paling cepat dijual,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi logistik juga menjadi faktor tambahan karena gangguan jalur udara dan pelayaran meningkatkan biaya pengiriman emas fisik.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Melemah Rp 53.000 Efek Suku Bunga The Fed
Chief Investment Officer Netwealth Iain Barnes menyebut volatilitas emas mencerminkan dominasi investor finansial dalam pasar logam mulia. “Investor keuangan, bukan investor fundamental, adalah pembeli emas marginal dan kami melihat mereka mengurangi risiko secara menyeluruh,” katanya.
Sementara itu, Head of Markets AJ Bell Dan Coatsworth menilai penurunan harga emas juga dipengaruhi penguatan dolar AS. Ia menjelaskan bahwa kenaikan dolar membuat emas lebih mahal bagi investor dengan mata uang lain, sehingga menekan permintaan.

