Serangan ke Ladang Gas South Pars Picu Lonjakan Harga Energi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki hari ke-20 dan serangan Israel terhadap ladang gas raksasa South Pars memicu lonjakan harga energi global serta respons militer yang lebih agresif dari Teheran. Perang tidak lagi menyasar pangkalan militer, melainkan sudah menghantam infrastruktur energi, mulai dari ladang hingga kilang minyak. Harga BBM akan melesat tajam.
Mengutip laporan CBS News yang diperbarui pada Kamis (19/3/2026) pukul 10.40 EDT, serangan terhadap fasilitas gas terbesar Iran tersebut terjadi sehari sebelumnya, Rabu (18/3/2026), dan langsung mendorong kenaikan harga minyak dan gas dunia.
Iran merespons dengan meningkatkan tekanan militer di kawasan Teluk. Serangan balasan dilaporkan menyasar infrastruktur energi di sejumlah negara, termasuk Kuwait dan Qatar, yang memperbesar risiko gangguan pasokan energi global.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya tidak akan lagi menahan diri jika serangan terhadap infrastruktur berlanjut. Dalam pernyataan di platform X pada Kamis (19/3/2026), ia menyebut respons Iran sejauh ini baru menggunakan “sebagian kecil kekuatan”.
“Jika infrastruktur kami kembali diserang, tidak akan lagi menahan diri,” tegas Araghchi.
Baca Juga
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus ditingkatkan. Ia menyebut bahwa Kamis (19/3/2026) akan menjadi hari dengan “paket serangan terbesar” sejak konflik dimulai.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine yang mengatakan bahwa militer Amerika kini semakin dalam menyerang wilayah Iran, menandakan eskalasi operasi yang signifikan.
Sementara itu, Presiden Donald Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak mengetahui rencana serangan Israel terhadap South Pars. Dalam pernyataan di Truth Social pada Rabu (18/3/2026), Trump juga memperingatkan bahwa jika Iran terus menyerang fasilitas LNG Qatar, Washington akan membalas dengan menghancurkan infrastruktur gas Iran.
Di tengah eskalasi tersebut, laporan The Washington Post mengungkap bahwa Pentagon tengah mempertimbangkan permintaan tambahan anggaran hingga US$200 miliar untuk mendanai perang. Hegseth mengakui angka tersebut masih dapat berubah, namun menegaskan bahwa kebutuhan pendanaan akan meningkat seiring intensitas operasi militer.
Laporan dari Reuters dan Al Jazeera juga menunjukkan bahwa konflik telah meluas ke berbagai titik strategis di kawasan Teluk, termasuk serangan terhadap fasilitas energi dan jalur distribusi, yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar global.
Eskalasi ini memperkuat kekhawatiran bahwa perang tidak lagi bersifat terbatas, melainkan berpotensi berkembang menjadi konflik regional berskala penuh dengan dampak langsung terhadap harga energi, inflasi global, dan stabilitas ekonomi dunia.

