Iran Konfirmasi Kematian Ali Larijani, Konflik Timur Tengah Membara
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik Iran–Israel memasuki fase eskalasi baru setelah Iran secara resmi mengonfirmasi tewasnya Kepala Keamanan Nasionalnya, Ali Larijani, serta komandan pasukan Basij, Gholamreza Soleimani, dalam serangan yang sebelumnya diklaim dilakukan Israel. Peristiwa tersebut terjadi dalam rangkaian serangan pada Selasa (17/03/2026), menandai salah satu pukulan paling signifikan terhadap elite keamanan Iran dalam konflik yang tengah berlangsung.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel, termasuk ke Tel Aviv, yang menyebabkan sedikitnya dua orang tewas akibat luka serius dari serpihan ledakan. Serangan tersebut juga menimbulkan kerusakan pada infrastruktur sipil, termasuk fasilitas transportasi. Pada saat yang sama, negara-negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab melaporkan keberhasilan mencegat rudal dan drone Iran, mencerminkan meluasnya dampak konflik lintas kawasan.
Baca Juga
Tolak Perang Iran, Direktur Kontraterorisme AS Joe Kent Mengundurkan Diri
Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, menegaskan bahwa Teheran akan memberikan respons yang “tegas dan menentukan” atas kematian Larijani. Garda Revolusi Iran bahkan mengklaim telah meluncurkan rudal ke Israel sebagai bagian dari aksi balasan awal. Namun, sejumlah analis menilai bahwa pembunuhan Larijani—yang selama ini berperan sebagai figur konsensus dalam sistem keamanan Iran—tidak akan menghentikan jalannya perang, melainkan berpotensi mempersempit ruang diplomasi untuk mengakhiri konflik.
Di sisi lain, tekanan geopolitik global semakin meningkat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengkritik negara-negara NATO yang menolak mengirimkan armada laut untuk mengamankan Selat Hormuz, jalur strategis bagi distribusi minyak dunia. Sikap negara-negara sekutu tersebut mencerminkan kehati-hatian internasional dalam terlibat lebih jauh dalam konflik. Sejalan dengan itu, Direktur National Counterterrorism Center AS, Joe Kent, dilaporkan mengundurkan diri di tengah perbedaan pandangan terkait perang Iran.
Baca Juga
Laporan lain menunjukkan eskalasi konflik juga berdampak pada stabilitas energi global dan jalur perdagangan internasional. Reuters melaporkan bahwa meningkatnya serangan di kawasan Teluk dan ancaman terhadap Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak, sekaligus meningkatkan volatilitas harga energi dunia.
Selain itu, sejumlah negara Barat seperti Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, dan Italia memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut—terutama jika melibatkan operasi darat skala besar—dapat memicu krisis kemanusiaan yang luas. Kondisi ini menegaskan bahwa konflik Iran–Israel tidak hanya menjadi persoalan bilateral, tetapi telah berkembang menjadi isu global dengan implikasi ekonomi, keamanan, dan kemanusiaan yang semakin kompleks. (Dari berbagai sumber)

