AS Tingkatkan Serangan ke Iran, Pentagon Sebut Kemampuan Teheran Sudah Melemah
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, AS akan melancarkan gelombang serangan paling intens terhadap Iran sejak perang dimulai.
Baca Juga
Wall Street Masih Bergolak, Investor Waspadai Eskalasi Perang Iran
“Ini akan menjadi, sekali lagi, hari paling intens dari serangan kami di dalam Iran,” kata Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon bersama Ketua Pimpinan Staf Gabungan AS Dan Caine, Selasa (10/3/2026) waktu Washington, seperti dikutip CNBC.
Menurut Pentagon, konflik yang telah memasuki hari ke-10 dari operasi militer yang disebut Operation Epic Fury menunjukkan tanda-tanda melemahnya kemampuan serangan Iran.
“Iran berdiri sendirian, dan mereka kalah telak,” ujar Hegseth.
Ia menyebut dalam 24 jam terakhir Iran menembakkan jumlah rudal paling sedikit sejak perang dimulai, meskipun Teheran tetap melancarkan serangan ke beberapa negara Teluk yang sebelumnya memiliki hubungan diplomatik dengan Republik Islam tersebut.
Target
Hegseth menegaskan operasi militer Amerika Serikat memiliki tiga tujuan strategis utama: menghancurkan persediaan rudal Iran, melumpuhkan kemampuan produksi misilnya, menghancurkan kekuatan angkatan laut Iran, serta secara permanen mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.
“Kami menghancurkan musuh dengan demonstrasi kemampuan teknologi dan kekuatan militer yang luar biasa,” katanya. “Kami tidak akan berhenti sampai musuh benar-benar dikalahkan.”
Namun Hegseth menekankan bahwa pemerintahan Donald Trump tidak akan terjebak dalam proyek nation-building seperti yang dilakukan pemerintahan George W. Bush dan Barack Obama selama perang di Irak dan Afghanistan.
Trump sendiri sehari sebelumnya mengatakan perang kemungkinan akan berakhir “sangat segera,” karena penghancuran aset militer Iran berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal Washington ketika serangan pertama dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Di lapangan, sejumlah kota strategis Iran seperti Teheran, Isfahan, dan Bandar Abbas dilaporkan menjadi sasaran serangan udara intensif oleh pesawat tempur AS dan Israel dalam beberapa hari terakhir. Target utama mencakup fasilitas militer, pangkalan rudal, serta instalasi yang diduga terkait program nuklir Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, termasuk ke kota Tel Aviv dan Haifa, memicu sistem pertahanan udara Iron Dome bekerja hampir tanpa henti.
Sejauh ini, berbagai laporan militer memperkirakan lebih dari 1.200 korban jiwa terjadi di Iran, termasuk personel militer dan warga sipil, sementara sekitar 300 orang dilaporkan tewas di Israel akibat serangan rudal dan drone.
Armada Militer AS di Teluk
Untuk mengamankan jalur energi global, Amerika Serikat juga memperkuat kehadiran militernya di kawasan Teluk Persia.
Baca Juga
Menteri Energi AS Hapus Postingan di X yang Sebut AL AS Kawal Tanker Minyak di Selat Hormuz
Dua kelompok kapal induk — termasuk USS Dwight D. Eisenhower dan USS Gerald R. Ford — kini dilaporkan beroperasi di perairan sekitar Strait of Hormuz dan Laut Arab, didukung kapal perusak berpeluru kendali serta kapal selam nuklir.
Washington menegaskan kehadiran armada tersebut bertujuan memastikan jalur perdagangan energi tetap terbuka, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat strategis tersebut. Trump juga memperingatkan Iran agar tidak mencoba mengganggu aliran minyak global.
“Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Strait of Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras dari yang mereka alami sejauh ini,” tulis Trump di platform Truth Social.
Ketegangan Regional Meningkat
Di saat yang sama, ketegangan regional terus meluas. Otoritas di Abu Dhabi mengonfirmasi bahwa serangan drone Iran memicu kebakaran di kilang minyak di Kompleks Industri Ruwais, meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Di sisi politik Iran, perubahan kepemimpinan juga memicu perhatian internasional. Setelah kematian pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei pada awal perang, Teheran menunjuk putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai penerus.
Baca Juga
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran, AS dan Israel Kirim Peringatan
Trump mengatakan kepada Fox News bahwa ia “tidak senang” dengan keputusan tersebut. “Saya tidak percaya dia bisa hidup dengan damai,” kata Trump. Meski demikian, Trump juga membuka kemungkinan dialog.
“Saya mendengar mereka sangat ingin berbicara,” katanya, merujuk pada sinyal dari Teheran untuk membuka jalur diplomasi.
Dalam konferensi pers yang sama, Hegseth memperingatkan pemimpin baru Iran agar tidak melanjutkan program nuklirnya. “Dia akan bijaksana jika mendengarkan presiden kami dan tidak mengejar senjata nuklir,” katanya.

