Biaya Perangi Iran Capai Rp 3.300 Triliun, Pentagon Siapkan Permintaan Anggaran ke Kongres
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pemerintah Amerika Serikat tengah mempertimbangkan lonjakan besar anggaran untuk mendanai perang melawan Iran, dengan nilai yang disebut-sebut dapat mencapai lebih dari US$200 miliar atau setara Rp 3.380 triliun pada kurs Rp 16.900 per dolar. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon pada Kamis (19/3/2026), seiring meningkatnya intensitas operasi militer Washington di kawasan Timur Tengah.
Mengutip laporan CNBC yang diterbitkan pada Kamis (19/3/2026), Hegseth menyatakan bahwa angka tersebut masih bersifat dinamis dan dapat berubah. “Permintaan anggaran itu bisa bergerak. Dibutuhkan uang untuk mengalahkan musuh,” ujar Hegseth, merespons laporan awal dari The Washington Post yang pertama kali mengungkap potensi permintaan dana tersebut pada Rabu (18/3/2026).
Hegseth menegaskan bahwa Pentagon akan kembali berkoordinasi dengan Kongres untuk memastikan pendanaan militer mencukupi, tidak hanya untuk operasi yang telah berlangsung, tetapi juga untuk kebutuhan ke depan. “Kami harus memastikan semua kebutuhan, termasuk amunisi, tidak hanya terpenuhi tetapi juga melebihi kebutuhan minimum,” katanya.
Sejumlah pejabat Kongres menyebutkan bahwa angka hingga US$200 miliar tersebut telah dibahas secara informal oleh pemerintahan Presiden Donald Trump, meskipun belum diajukan secara resmi. Senator Richard Blumenthal, anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat, mengonfirmasi bahwa diskusi tersebut telah berlangsung di internal pemerintahan.
Sementara itu, Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS Kevin Hassett sebelumnya mengungkapkan bahwa biaya perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026 telah mencapai sekitar US$12 miliar hingga Minggu (15/3/2026). Dalam wawancara dengan CBS News, Hassett menyatakan bahwa pemerintah belum melihat kebutuhan mendesak untuk meminta tambahan anggaran pada tahap awal konflik.
Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan eskalasi yang signifikan. Hegseth mengungkapkan bahwa militer AS telah menyerang lebih dari 7.000 target di Iran sejak operasi dimulai. Ia juga mengisyaratkan bahwa intensitas serangan akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga
Perang Masuki Fase Baru, Serangan Energi Picu Eskalasi Regional dan Ancaman Global
“Paket serangan hari ini akan menjadi yang terbesar sejauh ini, seperti halnya kemarin. Kapabilitas kami terus meningkat, sementara kemampuan Iran terus melemah,” ujarnya.
Laporan Reuters dan Al Jazeera sebelumnya juga menunjukkan bahwa konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah memasuki fase eskalasi baru, dengan serangan yang meluas ke berbagai target strategis, termasuk fasilitas energi dan infrastruktur militer di kawasan Teluk.
Lonjakan kebutuhan anggaran ini mencerminkan skala konflik yang semakin besar sekaligus menimbulkan kekhawatiran baru terhadap keberlanjutan fiskal AS dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk harga energi dan arus investasi internasional.
Dengan belum adanya keputusan final dari Kongres, arah kebijakan pendanaan perang ini akan menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan durasi dan intensitas konflik ke depan.

