Iran Tolak Gencatan Senjata, Trump Bilang Apa?
Poin Penting
|
DOHA, investortrust.id - Iran tegas menolak gencatan senjata sampai pihak yang menyerang (Amerika Serikat dan Israel) diberi pelajaran sepadan agar mereka tidak lagi berpikir untuk mengulangi tindakan militer terhadap Teheran.
“Kami secara tegas tidak mencari gencatan senjata. Kami yakin bahwa agresor harus ‘ditampar’ agar ia belajar dari kesalahannya dan tidak pernah lagi memikirkan agresi terhadap Iran tercinta,” kata Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf di X, Selasa (10/3/2026).
Dia menegaskan, Iran berniat memutus siklus “perang-negosiasi-gencatan senjata dan kemudian perang lagi”.
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Baca Juga
Perang Iran Diprediksi Panjang, Prasasti Dorong Pemerintah Perlu Efisiensi Fiskal
AS dan Israel pada awalnya mengklaim bahwa serangan “preemptif” tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman yang mereka anggap berasal dari program nuklir Iran. Tetapi AS dan Israel kemudian menunjukkan secara jelas bahwa mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dibunuh pada hari pertama operasi militer tersebut. Republik Islam Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Presiden Rusia, Vladimir Putin menggambarkan pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran hukum internasional yang sinis. Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi AS-Israel dan menyerukan deeskalasi segera serta penghentian permusuhan.
Donald Trump Bilang Apa?
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump pada Selasa (10/3/2026) mengatakan, ia tidak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan untuk melakukan perundingan dengan Iran.
“Itu mungkin saja, tergantung pada syaratnya, mungkin saja, hanya mungkin... Anda tahu, sebenarnya kita tidak perlu lagi berbicara, jika benar-benar dipikirkan, tetapi itu mungkin,” kata Trump kepada Fox News ketika ditanya mengenai kemungkinan tersebut.
Baca Juga
Trump juga mengungkapkan, ia tidak percaya Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang telah diangkat sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, “dapat hidup dengan damai.”
Trump mengaku “kecewa” atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. (Ant/Sputnik/RIA Novosti)

