Perang AS-Israel Versus Iran Diprediksi Singkat, Gegara Minus Dukungan Kongres AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Perang yang melibatkan aliansi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran diprediksi tidak akan berlangsung dalam waktu lama, melainkan hanya sekitar satu bulan dengan kemenangan politik yang justru berpotensi berada di pihak Iran. Pengamat Timur Tengah yang juga penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies, Smith Alhadar, menilai bahwa meskipun Amerika Serikat memiliki persenjataan yang jauh lebih maju, mereka tidak akan mampu menanggung beban perang panjang dengan biaya besar, terlebih dukungan publik domestik terhadap agresi ini hanya menyentuh angka 25 persen.
"Tekanan besar kini justru datang dari internal Washington, di mana Kongres mulai mendesak Presiden Donald Trump untuk meminta izin resmi guna mendapatkan legalitas perang, mengingat publik Amerika Serikat menolak penggunaan uang pajak rakyat untuk peperangan yang tujuannya dianggap tidak jelas," kata Smith, Kamis (5/3/2026).
Menurut Smith, situasi di dalam negeri Amerika Serikat kian rumit karena adanya perbedaan pernyataan antara Trump dan para pembantunya mengenai tujuan akhir dari perang ini, yang oleh Smith Al Hadar disebut sebagai hal yang sulit dimengerti.
Landasan legitimasi hukum perang ini pun terus digugat oleh DPR maupun Senat karena secara konstitusional, perang hanya bisa dideklarasikan oleh Kongres, bukan oleh pemerintah atau Presiden Amerika Serikat secara sepihak.
Meski saat ini suara mayoritas Republikan masih memberikan dukungan, mosi di antara kelompok-kelompok politik mulai berjalan dan diprediksi bisa berubah dalam beberapa hari ke depan seiring dengan munculnya tanda-tanda bahwa Amerika Serikat telah salah hitung.
Baca Juga
Perang AS–Israel vs Iran Memasuki Hari Kelima, Gedung Putih: Teheran “Membayar dengan Darah”
Kesalahan penghitungan tersebut berakar pada asumsi bahwa perang dengan Iran hanyalah perang singkat dengan misi utama berupa perubahan rezim atau regime change untuk menghancurkan kekuasaan para mullah, dan bukan sekadar urusan nuklir.
Smith menegaskan bahwa upaya mengubah rezim Iran menjadi sistem sekular seperti yang diinginkan Trump tidak akan terwujud.
Di balik agresi ini, terdapat pertemuan dua kepentingan strategis antara Israel dan Amerika Serikat, di mana dalam rilis kebijakan keamanan nasionalnya, Amerika Serikat sebenarnya berencana mengurangi keterlibatan langsung di Timur Tengah. Agar rencana tersebut berhasil, Israel dipacu untuk menjadi negara hegemon yang mandiri dan kuat tanpa bergantung pada Amerika Serikat, yang mensyaratkan Israel memiliki teritori luas serta kemampuan militer mandiri.
"Agenda besar untuk menciptakan Timur Tengah yang aman bagi supremasi Israel adalah dengan memastikan kawasan tersebut tanpa kehadiran Iran, karena Republik Islam Iran dianggap sebagai satu-satunya tantangan nyata bagi supremasi militer Israel. Konsep ini selaras dengan keinginan Amerika Serikat untuk menarik diri dan menjadikan Israel sebagai proksi utama di kawasan tersebut. Namun, strategi ini mustahil dapat diwujudkan selama dua faktor utama masih ada, yaitu tuntutan kemerdekaan Palestina dan eksistensi rezim Iran saat ini," kata Smith.
Pertemuan dua agenda inilah yang pada akhirnya menjadi pemicu utama meletusnya perang di Timur Tengah, meskipun ketahanan Iran dan tekanan politik domestik Amerika Serikat kemungkinan besar akan memaksa Trump untuk menghentikan agresinya lebih cepat dari perkiraan semula.

