Harga LNG Bisa Melonjak Gila-gilaan Gegara Perang Israel-Iran
WASHINGTON, Investortrust.id - Harga gas alam cair (LNG) global diprediksi merangkak naik karena para pedagang mengantisipasi kemungkinan konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel membahayakan rute utama LNG di Selat Hormuz.
"Serangan roket dan pesawat tak berawak (drone) selama berhari-hari antara Israel dan Iran memicu volatilitas harga komoditas energi selama akhir pekan setelah serangan terhadap infrastruktur produksi minyak dan gas alam," kata analis Natural Gas Intel (NGI), Jacob Dick dikutip Selasa (17/6/2025).
Kementerian Energi Israel mengonfirmasi bahwa produksi gas Leviathan dan Karish telah ditutup terlebih dahulu, sehingga mengurangi sekitar 1,8 Bcf per hari ekspor ke Yordania dan Mesir.
Leviathan adalah ladang gas alam besar di Laut Mediterania di lepas pantai Israel sekitar 47 kilometer barat daya ladang gas Tamar. Ladang gas tersebut kira-kira 130 kilometer barat Haifa di perairan sedalam 1.500 meter di cekungan Levant, daerah hidrokarbon yang kaya di salah satu penemuan ladang gas alam lepas pantai terbesar.
Baca Juga
Mengekor Minyak, Harga Gas Akan Naik Jadi 'Segini' Imbas Konflik Israel-Iran
Sementara drone Israel juga menargetkan infrastruktur utama di ladang gas South Par Iran, yang menyediakan sekitar 70% pasokan gas negara itu.
Seorang profesor teknik perminyakan di Universitas Houston Ramanan Krishnamoorti mengatakan, eskalasi konflik lebih lanjut antara Israel dan Iran dapat menyebabkan harga minyak dan gas naik secara signifikan.
"Meski sanksi telah membatasi produksi minyak Iran dalam beberapa tahun terakhir, negara itu menyumbang sekitar 3% dari produksi minyak global," kata Krishnamoorti dilansir ABC News.
Iran juga menegaskan kendali atas jalur tanker melalui Selat Hormuz, rute perdagangan yang memfasilitasi pengangkutan sekitar 20% pasokan minyak global.
"Harga minyak dapat melonjak dari level saat ini sekitar US$ 73 menjadi US$ 120 per barel jika konflik Israel-Iran merusak infrastruktur minyak Iran atau menghalangi beberapa kapal tanker minyak di Selat Hormuz," kata Krishnamoorti.
Skenario itu akan mengakibatkan kenaikan harga minyak naik lebih 60%, yang mengerek kenaikan harga gas secara proporsional. Harga rata-rata satu galon gas akan naik dari US$ 3,13 menjadi US$ 5,13.
Baca Juga
Wall Street Menguat di Tengah Harapan Deeskalasi Israel-Iran, Dow Melonjak di Atas 300 Poin
"Jika kita melihat pembatasan di Selat Hormuz, kita akan melihat kenaikan harga minyak besar, dan itu akan berdampak pada semua hal di AS," kata Krishnamoorti.
Prediksi potensi lonjakan harga minyak tersebut sesuai proyeksi perusahaan manajemen aset Lazard, yang memperingatkan tentang kemungkinan eskalasi yang melibatkan serangan terhadap instalasi energi Teluk atau upaya untuk menutup Selat Hormuz untuk sementara waktu.
"Skenario seperti itu akan memicu kenaikan harga minyak hingga US$120 per barel," kata Lazard dalam memo kepada investor.
Iran meluncurkan puluhan rudal balistik ke Israel pada Jumat malam sebagai balasan atas serangan mendadak Israel Jumat dini hari. Israel menyerang jantung program nuklir Iran menewaskan beberapa ilmuwan nuklir serta pemimpin militer tingkat tinggi.

