Urusan Nuklir Belum Rampung, Iran dan AS Janjian Ketemu di Jenewa Pekan Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Utusan Amerika Serikat dan Iran dilaporkan akan kembali menggelar pertemuan di Jenewa pekan depan, untuk mencapai kesepakatan seputar program nuklir yang dikembangkan pemerintahan Khamanei. Langkah dialog ini akan dipimpin oleh Oman, dengan Swiss akan bertindak sebagai fasilitator dialog yang mewakili Washington.
Dilaporkan CNANews, Minggu (15/2/2026), skema dialog dua negara terus diupayakan menyusul dorongan Washington agar Teheran bersepakat untuk membatasi program nuklirnya.
Sebelumnya pada 6 Februari lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah bertemu utusan AS Steve Witkoff dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner di Oman.
Presiden AS Donald Trump sendiri masih terus berkoar menyuarakan ancaman militer AS terhadap program nuklir Teheran, yang pernah diserang pasukan AS pada Juni tahun lalu selama perang 12 hari antara Israel dan Iran.
Trump memperingatkan Teheran bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dengan pemerintahannya akan menjadi sesuatu yang “sangat traumatis”. Ia juga berulang kali mengancam akan menggunakan kekuatan militer untuk memaksa Iran menyetujui pembatasan program nuklirnya.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Tipis, Pasar Tunggu Sinyal Diplomasi AS-Iran
Sementara Iran segera menyatakan akan membalas setiap serangan.
Trump pada Jumat mengatakan bahwa USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia, akan dikirim dari Karibia ke Timur Tengah untuk bergabung dengan aset militer AS lainnya yang telah diperkuat di kawasan tersebut.
Ia juga menyatakan bahwa perubahan kekuasaan di Iran “akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi”.
Iran tolak larangan pengayaan uranium
Masih menurut Trump, ditegaskannya bahwa Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium dalam kesepakatan apa pun, dan satu hal inilah yang tidak disetujui oleh Teheran.
Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Namun, sejumlah pejabatnya semakin sering mengancam untuk mengejar kepemilikan senjata nuklir. Sebelum perang pada Juni, Iran telah memperkaya uranium hingga tingkat kemurnian 60%, yang secara teknis hanya selangkah lagi dari tingkat kemurnian untuk senjata.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya “siap untuk segala bentuk verifikasi”. Namun, badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), selama berbulan-bulan tidak dapat melakukan inspeksi dan verifikasi terhadap stok nuklir Iran.

