Dibayangi Ketidakpastian Global, ECB Pertahankan Suku Bunga untuk Kelima Kali Berturut-turut
Poin Penting
|
FRANKFURT, investortrust.id - Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga untuk kelima kalinya berturut-turut, dengan suku bunga utamanya tetap di level 2%, sejalan dengan target bank sentral tersebut.
Baca Juga
ECB Tahan Suku Bunga, Tingkatkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Zona Euro 2026
ECB menyatakan pada Kamis (5/2/2026) bahwa jalur inflasi dan kondisi ekonomi secara lebih luas tidak membenarkan perubahan kebijakan pada pertemuan bulan ini, namun memperingatkan bahwa prospek ke depan sulit diprediksi.
“Inflasi seharusnya stabil di target 2% dalam jangka menengah. Perekonomian tetap tangguh di tengah lingkungan global yang menantang. Tingkat pengangguran yang rendah, neraca sektor swasta yang solid, pelaksanaan bertahap belanja publik untuk pertahanan dan infrastruktur, serta dampak suportif dari pemangkasan suku bunga sebelumnya menopang pertumbuhan,” demikian pernyataan bank sentral tersebut.
Pada saat yang sama, ECB menyebutkan prospek yang tidak pasti, terutama karena ketidakpastian kebijakan perdagangan global yang berkelanjutan dan ketegangan geopolitik. Euro bergerak datar terhadap dolar AS di level US$1,179 setelah keputusan tersebut, yang telah diperkirakan secara luas oleh pasar.
Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan dalam konferensi pers pada Kamis bahwa bank sentral akan mempertahankan pendekatan yang bergantung pada data dan dilakukan “per pertemuan,” serta tidak akan “berkomitmen terlebih dahulu pada jalur suku bunga tertentu.”
“Secara khusus, keputusan suku bunga kami akan didasarkan pada penilaian kami terhadap prospek inflasi dan risiko-risiko yang mengelilinginya,” ujarnya, seperti dilansir CNBC.
Risiko Dua Arah
Sekilas, keputusan Kamis tampak seperti peristiwa yang tidak signifikan. Namun para ekonom menilai sebaliknya.
“Keliru jika pertemuan Februari dikarakterisasi sebagai non-event. Lingkungan saat ini ditandai oleh ketidakpastian yang tinggi dan risiko dua arah,” tulis para ekonom Deutsche Bank dalam riset yang dikirim melalui email sebelum keputusan penahanan suku bunga.
“Memahami bagaimana ECB memandang risiko menjadi penting untuk mengukur arah kebijakan ke depan,” tambah mereka, seraya menilai arti penguatan nilai tukar euro bagi kebijakan moneter ketika tingkat inflasi zona euro sudah berada di bawah target 2% ECB. Data kilat yang dirilis Rabu menunjukkan inflasi mendingin menjadi 1,7% pada Januari.
“Jika faktor lain tidak berubah, apresiasi [euro] baru-baru ini bersifat disinflasioner dan memperkuat potensi inflasi yang berada di bawah target. Namun, besarnya dampak bergantung pada kondisi yang menyertainya.”
Penguatan mata uang cenderung memicu disinflasi dengan membuat barang impor, bahan baku, dan energi menjadi lebih murah, yang pada gilirannya menurunkan biaya produksi dan harga konsumen.
Meski hal tersebut bisa menguntungkan bisnis dan konsumen dalam jangka pendek, bank sentral mewaspadai risiko disinflasi, bahkan deflasi, dalam jangka panjang karena dapat memicu stagnasi ekonomi. Konsumen dapat menunda pembelian dengan harapan harga akan turun lebih jauh, sementara dunia usaha menghadapi pendapatan yang lebih rendah dan beban utang riil yang meningkat.
Baca Juga
India dan Uni Eropa Rampungkan Kesepakatan Perdagangan Bebas ‘Bersejarah’
Dalam sebulan terakhir, euro telah menguat 0,75% terhadap dolar AS dan melonjak hampir 14% dalam 12 bulan terakhir, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Sejumlah pembuat kebijakan ECB telah menyuarakan kekhawatiran atas penguatan mata uang tunggal tersebut terhadap dolar dan potensi dampak penekannya terhadap target inflasi 2% bank sentral.
“Kami memantau secara ketat apresiasi euro ini dan implikasinya yang mungkin terhadap inflasi yang lebih rendah,” kata Gubernur Bank Sentral Prancis, Francois Villeroy de Galhau, pekan lalu.
Lagarde mengatakan pada Kamis bahwa Dewan Gubernur ECB telah membahas risiko inflasi ke arah bawah serta nilai tukar euro sebagai bagian dari penilaian risiko ekonomi terbaru.
“Inflasi bisa saja lebih rendah jika tarif menekan permintaan terhadap ekspor kawasan euro lebih besar dari perkiraan, dan jika negara-negara dengan kelebihan kapasitas semakin meningkatkan ekspor ke kawasan euro,” ujarnya, seraya menambahkan:
“Selain itu, euro yang lebih kuat dapat menurunkan inflasi melampaui ekspektasi saat ini. Pasar keuangan yang lebih bergejolak dan cenderung menghindari risiko dapat menekan permintaan, dan dengan demikian juga menurunkan inflasi.”

