India dan Uni Eropa Rampungkan Kesepakatan Perdagangan Bebas ‘Bersejarah’
Poin Penting
|
NEW DELHI, investortrust.id - India dan Uni Eropa telah merampungkan perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang disebut sebagai “bersejarah”, serta digadang-gadang sebagai “induk dari semua kesepakatan”. Hal itu disampaikan Perdana Menteri India Narendra Modi dalam pidatonya pada ajang India Energy Week, Selasa (27/1/2026).
FTA dengan Uni Eropa, yang mewakili sekitar 25% produk domestik bruto (PDB) global dan sekitar sepertiga perdagangan dunia, juga akan melengkapi kesepakatan dagang India dengan Inggris dan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (European Free Trade Association/EFTA), kata Modi.
Baca Juga
Ekspor India November Naik Tajam meski Dihantam Tarif Tinggi AS
Perjanjian ini akan membentuk pasar dengan populasi sekitar 2 miliar orang, di saat hubungan perdagangan global tengah diuji oleh meningkatnya ketegangan geopolitik.
“Saya mengucapkan selamat kepada rekan-rekan yang terlibat di setiap sektor, seperti tekstil, permata dan perhiasan, kulit dan sepatu. Kesepakatan ini akan sangat mendukung sektor-sektor tersebut,” kata Modi, dilansir CNBC.
Modi dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen diperkirakan akan menyampaikan pernyataan bersama dalam KTT India–Uni Eropa di New Delhi, yang akan mengungkap rincian kesepakatan yang telah dirundingkan selama hampir dua dekade.
Perundingan dagang antara kedua pihak kembali diluncurkan pada 2022 dan prosesnya berlangsung lama karena isu-isu yang “saling sensitif”, seperti pertanian dan otomotif. “India dan Uni Eropa sama-sama bisa sangat proteksionis,” kata Direktur European Centre for International Political Economy, Hosuk Lee Makiyama, kepada CNBC.
Baik Uni Eropa maupun India belum berhasil mengamankan kesepakatan dagang besar yang dapat berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi mereka, terutama karena Amerika Serikat dan China tertutup untuk kesepakatan dagang. Karena itu, kesepakatan ini akan menjadi “salah satu yang terbaik yang bisa mereka dapatkan,” ujarnya.
Mitra dagang terbesar
Bagi New Delhi, yang tengah menghadapi dampak berat dari tarif hukuman Amerika Serikat, kesepakatan ini dapat menjadi suntikan yang sangat dibutuhkan. Sejak Trump memberlakukan tarif 50% terhadap ekonomi Asia tersebut pada Agustus tahun lalu, India mulai mencari pasar alternatif bagi ekspornya dan meneken perjanjian dagang dengan sejumlah negara.
Ini merupakan kesepakatan dagang besar keempat India sejak Amerika Serikat—pasar ekspor terbesar India dan mitra dagang utama—memberlakukan tarif tinggi pada Agustus. India sebelumnya telah menandatangani perjanjian dagang dengan Inggris, Oman, dan Selandia Baru.
Menurut data Komisi Eropa, nilai perdagangan barang antara India dan Uni Eropa pada 2024 mencapai lebih dari 120 miliar euro (sekitar US$140 miliar), menjadikan blok tersebut sebagai mitra dagang terbesar India. Mesin dan peralatan, bahan kimia, logam dasar, produk mineral, serta tekstil merupakan ekspor utama India ke Uni Eropa. Untuk tahun yang berakhir pada Maret 2025, perdagangan barang India dengan Uni Eropa tercatat sebesar US$136 miliar.
India merupakan mitra dagang terbesar kesembilan Uni Eropa, menyumbang 2,4% dari total perdagangan barang blok tersebut pada 2024, jauh di bawah mitra utama seperti Amerika Serikat (17,3%), China (14,6%), dan Inggris (10,1%). Ekspor utama Uni Eropa ke India mencakup mesin dan peralatan, peralatan transportasi, serta bahan kimia.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada World Economic Forum di Davos 20 Januari bahwa blok tersebut berkomitmen untuk “memilih perdagangan yang adil dibanding tarif, kemitraan dibanding isolasi, dan keberlanjutan dibanding eksploitasi.”
Total ekspor India ke enam pasar utama Uni Eropa—Belanda, Jerman, Italia, Spanyol, Prancis, dan Belgia—mencapai US$43,8 miliar dalam sembilan bulan hingga Desember, dibandingkan dengan US$65,88 miliar ekspor India ke Amerika Serikat saja.
Baca Juga
Trump Resmi Gandakan Tarif Impor India hingga 50%, Hubungan Dagang Memanas
Para ahli menyatakan bahwa meskipun kesepakatan India dengan Uni Eropa merupakan tonggak penting, hal tersebut tidak akan menggantikan kebutuhan akan perjanjian dagang antara India dan Amerika Serikat.
Pada 2024, surplus perdagangan barang India dengan Amerika Serikat tercatat sebesar US$45,8 miliar, sementara dengan Uni Eropa jauh lebih rendah, yakni US$25,8 miliar.

