Harga Minyak Melonjak 3%, Risiko Iran Kembali Guncang Pasar Energi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar energi global kembali diguncang oleh faktor geopolitik. Harga minyak melonjak lebih dari 3% pada Kamis (29/1/2026). Ada laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran, salah satu anggota utama Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Minyak mentah AS (WTI) ditutup naik 3,5% ke level US$65,42 per barel, sementara minyak acuan global Brent menguat 3,38% ke US$70,71 per barel. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik yang kembali masuk ke harga minyak, meskipun belum terjadi gangguan pasokan secara nyata.
Baca Juga
Trump Sebut ‘Armada Besar’ Menuju Iran, Harga Minyak Melonjak
Menurut sejumlah sumber yang dikutip Reuters, Trump tengah mempertimbangkan serangan terbatas terhadap pasukan keamanan dan pemimpin Iran dengan tujuan mendorong perubahan rezim di tengah gelombang protes domestik. Langkah tersebut, jika terealisasi, berpotensi memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan energi global.
Pasar mencermati dengan cermat situasi di Iran, yang awal bulan ini melancarkan operasi keamanan besar-besaran untuk meredam protes. Kekhawatiran utama pelaku pasar adalah potensi gangguan produksi dan distribusi minyak, baik melalui kerusakan infrastruktur maupun terganggunya jalur logistik strategis di kawasan tersebut.
Tekanan geopolitik semakin meningkat setelah Trump mengerahkan Abraham Lincoln Carrier Strike Group ke Timur Tengah dan mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran terkait program nuklirnya. Presiden AS bahkan mengancam bahwa serangan berikutnya akan jauh lebih besar dibandingkan operasi militer sebelumnya.
Baca Juga
AS Kirim Armada ke Iran dan Jatuhkan Sanksi Baru, Harga Minyak Melonjak Hampir 3%
Bagi pasar minyak, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa harga tidak semata ditentukan oleh fundamental permintaan dan persediaan, tetapi juga oleh persepsi risiko. Dalam kondisi pasar yang sensitif, sinyal eskalasi geopolitik saja sudah cukup untuk mendorong reli harga yang tajam.
Ke depan, volatilitas diperkirakan tetap tinggi seiring investor menunggu kejelasan arah kebijakan AS terhadap Iran. Selama ketegangan belum mereda, risiko gangguan pasokan akan terus menjadi faktor utama yang menopang harga minyak di pasar global.

