Venezuela Sebut 80 Orang Tewas Akibat Agresi AS di Caracas, Ada 32 Orang Pasukan Kuba
Poin Penting
|
CARACAS, Investortrust.id - Jumlah korban tewas akibat operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Venezuela pada hari Sabtu (3/1/2026) terus bertambah. Menurut laporan yang diterbitkan oleh New York Times pada Minggu (4/1/2026), sebanyak 80 orang dipastikan tewas dalam serangan tersebut, dengan kemungkinan angka ini akan meningkat seiring berjalannya waktu.
Mengutip pejabat senior Venezuela, media itu melaporkan bahwa sebagian besar korban merupakan anggota tim keamanan Presiden Nicolás Maduro.
Operasi militer ini merupakan bagian dari upaya besar Amerika Serikat untuk mengambil kendali atas situasi politik di Venezuela yang semakin memburuk. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino, menyatakan bahwa sebagian besar tim keamanan Maduro yang tewas dalam serangan tersebut, meskipun tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai jumlah pastinya.
Sebagaimana diberitakan, operasi militer tersebut berhasil menangkap Presiden Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang keduanya dibawa ke Amerika Serikat setelah penangkapan.
Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa Amerika Serikat berkomitmen untuk menguasai Venezuela dan siap melibatkan pasukan AS jika diperlukan untuk menjaga stabilitas negara tersebut. "Operasi militer ini akan memastikan stabilitas yang lebih baik bagi negara itu," ujar Trump.
Baca Juga
Maduro dan Cilia Flores tiba di New York pada malam Sabtu (3/1/2026) dan kini ditahan di Metropolitan Detention Center di Brooklyn. Mereka menghadapi sejumlah tuduhan federal di Amerika Serikat, yang melibatkan perdagangan narkoba dan dugaan keterlibatan dengan organisasi-organisasi teroris.
Maduro sebelumnya telah didakwa pada 2020 dengan tuduhan konspirasi narkoba dan terorisme, meskipun ia membantah semua tuduhan tersebut. Maduro menegaskan bahwa tuduhan-tuduhan tersebut tidak berdasar dan hanya merupakan upaya untuk merusak pemerintahannya. Sementara itu, pihak berwenang di ibu kota Venezuela, Caracas, telah menyerukan pembebasan Maduro dan istrinya, menganggap operasi militer tersebut sebagai campur tangan yang tidak sah terhadap kedaulatan Venezuela.
Di sisi lain, pemerintah Kuba pada Minggu (3/1/2026) juga mengumumkan bahwa 32 warga negara mereka tewas dalam serangan militer tersebut. Pemerintah Kuba menyatakan bahwa para korban adalah anggota angkatan bersenjata dan lembaga intelijen Kuba yang telah melaksanakan tugas pengamanan terhadap Presiden Maduro.
Dalam pernyataannya yang dikutip Reuters, pemerintah Kuba menyampaikan bahwa mereka menggelar hari berkabung pada 5 - 6 Januari untuk menghormati para korban, dan akan segera mengumumkan pengaturan pemakaman.
Baca Juga
Operasi Militer AS Tangkap Maduro Setidaknya Tewaskan 40 Orang, Picu Kritik Internasional
Presiden Donald Trump juga memberikan pernyataan terkait warga Kuba yang tewas dalam serangan itu. Trump mengungkapkan bahwa para korban tersebut bertugas sebagai pengawal pribadi Presiden Maduro.
"Banyak warga Kuba yang tewas kemarin," kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, saat dalam perjalanan kembali ke Washington dari Florida. "Banyak kematian di pihak mereka. Tidak ada kematian di pihak kami."
Sekadar informasi, sejak Maduro berkuasa, Kuba telah memberikan dukungan keamanan untuk pemimpin Venezuela tersebut. Namun, tidak jelas berapa banyak warga Kuba yang berada di lokasi saat serangan itu terjadi, serta berapa banyak yang tewas di tempat lain.

