Maduro Bukan yang Pertama, Ini Para Pemimpin Negara yang Ditangkap AS di Tanah Airnya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump lewat akun sosial Truth Social mengeklaim telah berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari tanah airnya, dan segera menerbangkan Maduro beserta isterinya keluar dari Venezuela.
Pernyataan resmi pemerintah Amerika Serikat baru akan disampaikan oleh Trump pada Sabtu pukul 11.00 waktu Florida, atau pukul 23.00 waktu Indonesia Bagian Barat.
Jika klaim ini benar, maka Maduro adalah korban kesekian dari kebijakan Amerika Serikat yang langsung menggelar agresi dan menangkap seorang pemimpin negara di tanah airnya sendiri.
Manuel Noriega, Panama
Nama pertama yang mungkin layak disebut adalah Presiden Panama Manuel Noriega. Selain proses penangkapannya amat terdokumentasi dengan baik oleh seluruh media massa, sejumlah letupan hubungan kedua negara seperti memberikan clue bahwa Noriega hanya menunggu waktu sebelum ditangkap oleh pasukan AS.
Manuel Noriega adalah penguasa de facto Panama pada 1983–1989. Meski bukan presiden hasil pemilu, ia mengendalikan negara melalui jabatannya sebagai Panglima Pasukan Pertahanan Panama. Selama bertahun-tahun, Noriega memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat dan bahkan pernah bekerja sebagai informan CIA. Namun hubungan ini memburuk pada akhir 1980-an.
Pada 1988, pengadilan federal AS mendakwa Noriega atas tuduhan perdagangan narkotika, pencucian uang, dan pemerasan, dengan tuduhan bahwa ia bekerja sama dengan kartel Medellín untuk menyelundupkan kokain ke Amerika Serikat. Noriega menolak mengakui dakwaan tersebut dan tetap berkuasa di Panama.
Ketegangan meningkat setelah pemilu Panama tahun 1989 yang dimenangkan oleh kandidat oposisi Guillermo Endara dibatalkan oleh rezim Noriega. Situasi makin memanas ketika seorang marinir AS tewas ditembak oleh pasukan Panama pada Desember 1989.
Pada 20 Desember 1989, Amerika Serikat melancarkan invasi militer ke Panama yang dinamai Operasi Just Cause. Tujuan resmi operasi ini adalah melindungi warga AS, memulihkan demokrasi di Panama, memerangi perdagangan narkoba, dan menangkap Noriega untuk diadili.
Setelah invasi dimulai, Noriega melarikan diri dan bersembunyi selama beberapa hari. Pada 24 Desember 1989, ia mencari perlindungan di Kedutaan Besar Vatikan (Nunsiatur Apostolik) di Panama City. Pasukan AS mengepung gedung tersebut dan menggunakan tekanan psikologis, termasuk memutar musik keras secara terus-menerus, untuk memaksanya menyerah.
Pada 3 Januari 1990, Manuel Noriega akhirnya menyerahkan diri kepada pasukan Amerika Serikat. Ia kemudian diterbangkan ke Miami, Florida, untuk menghadapi proses hukum.
Baca Juga
Donald Trump Sebut Telah Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Di Amerika Serikat, Noriega diadili di pengadilan federal dan pada 1992 dinyatakan bersalah atas berbagai tuduhan narkotika dan pencucian uang. Ia dijatuhi hukuman 40 tahun penjara, yang kemudian dikurangi menjadi sekitar 30 tahun. Setelah menjalani hukuman di AS, Noriega diekstradisi ke Prancis dan kemudian ke Panama, di mana ia tetap dipenjara hingga meninggal dunia pada 2017.
Saddam Hussein, Irak
Saddam Hussein adalah Presiden Irak sejak 1979 hingga digulingkan pada 2003. Ia memerintah dengan kekuasaan otoriter dan selama puluhan tahun menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh sekaligus kontroversial di Timur Tengah. Hubungan Irak dengan Amerika Serikat memburuk tajam setelah invasi Irak ke Kuwait pada 1990, yang memicu Perang Teluk. Meski Saddam tetap berkuasa setelah perang tersebut, Irak berada di bawah sanksi internasional dan pengawasan ketat PBB.
Baca Juga
Pada Maret 2003, Amerika Serikat bersama koalisi internasional melancarkan invasi ke Irak dengan alasan bahwa rezim Saddam memiliki senjata pemusnah massal dan memiliki kaitan dengan terorisme internasional. Operasi ini kemudian dikenal sebagai Perang Irak 2003. Pada April 2003, pasukan koalisi berhasil merebut Baghdad dan menjatuhkan rezim Saddam Hussein. Namun, Saddam sendiri berhasil melarikan diri dan menghilang selama beberapa bulan.
Setelah kejatuhan Baghdad, Saddam menjadi target utama operasi pencarian yang dinamakan Operation Red Dawn. Pada 13 Desember 2003, pasukan Amerika Serikat berhasil menemukan Saddam Hussein di dekat kota Ad-Dawr, tidak jauh dari Tikrit, kampung halamannya di Irak utara.
Saddam ditemukan bersembunyi di sebuah lubang bawah tanah sempit, yang kemudian dikenal secara luas sebagai “spider hole”. Saat ditangkap, ia tidak melakukan perlawanan berarti. Pasukan AS menyatakan bahwa Saddam berada dalam kondisi lemah dan terisolasi, namun tetap kooperatif saat penangkapan.
Setelah ditangkap, Saddam Hussein dibawa ke tahanan militer AS dan kemudian diserahkan kepada otoritas Irak yang dibentuk pascajatuhnya rezim Ba’ath. Ia diadili oleh Pengadilan Tinggi Irak atas berbagai tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Kasus pertama yang diadili adalah pembunuhan 148 warga Desa Dujail pada 1982, sebagai balasan atas upaya pembunuhan terhadap dirinya. Pada November 2006, Saddam Hussein dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati dengan cara gantung.
Pada 30 Desember 2006, Saddam Hussein dieksekusi di Baghdad. Eksekusi tersebut menandai berakhirnya secara simbolik era kekuasaan Saddam Hussein di Irak, sekaligus menjadi salah satu peristiwa paling penting dan kontroversial dalam sejarah modern Timur Tengah.
Berbeda dengan Noriega, Saddam tidak dibawa ke Amerika Serikat, namun diadili di Tanah Airnya sendiri.
Jean-Bertrand Aristide, Haiti
Nama yang satu ini menyimpan cerita yang sedikit rumit jika ingin disebut sebagai bagian dari penangkapan para pemimpin dunia oleh pasukan Amerika Serikat.
Jean-Bertrand Aristide yang merupakan presiden Haiti terpilih dan menjabat dua kali, tengah menghadapi guncangan politik di dalam negerinya sejak akhir 2003. Pemerintahan di bawah komandonya tak mampu mendorong pertumbuhan perekonomian domestik karena kerap dilingkupi pemberontakan bersenjata, serta penolakan dari kelompok oposisi yang menuduhnya otoriter dan korup. Situasi keamanan memburuk ketika kelompok bersenjata anti-pemerintah menguasai sejumlah kota.
Baca Juga
Trump Buka Opsi Perang dengan Venezuela, Harga Minyak Global Naik
Pada 29 Februari 2004, Aristide meninggalkan Haiti dan diterbangkan ke luar negeri menggunakan pesawat militer Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa Aristide mengundurkan diri secara sukarela demi mencegah pertumpahan darah dan kemudian dievakuasi untuk keselamatannya. AS menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan atas permintaan Aristide sendiri.
Namun, Aristide dan para pendukungnya memberikan versi yang sangat berbeda. Aristide menyatakan bahwa ia dipaksa meninggalkan jabatan dan “diculik” oleh militer AS dan sekutu internasionalnya. Ia menegaskan tidak pernah mengundurkan diri secara sukarela dan menyebut peristiwa tersebut sebagai kudeta internasional yang melibatkan Amerika Serikat, Prancis, dan Kanada.
Setelah meninggalkan Haiti, Aristide diterbangkan ke Republik Afrika Tengah, sebelum akhirnya memperoleh suaka di Afrika Selatan. Sementara itu, di Haiti dibentuk pemerintahan sementara dengan dukungan komunitas internasional, dan pasukan penjaga perdamaian PBB (MINUSTAH) dikerahkan untuk menstabilkan situasi keamanan.
Hingga kini, peristiwa 29 Februari 2004 tetap menjadi isu kontroversial. Tidak ada proses hukum formal berupa penangkapan atau pengadilan terhadap Aristide oleh Amerika Serikat. Secara teknis, ia tidak pernah ditangkap secara hukum, tetapi dipindahkan keluar negeri dalam kondisi tekanan ekstrem dan krisis keamanan nasional.
Jika melihat kasus-kasus penangkapan pemimpin negara oleh pasukan Amerika Serikat, sangat jelas bahwa langkah penangkapan terhadap Maduro setidaknya pernah dilakukan AS terhadap Noriega, lewat operasi militer yang jelas dan terstruktur.
Namun tentunya kita masiih harus menunggu keterangan resmi mengenai penangkapan Maduro, dari pernyataan pers yang akan disampaikan oleh Trump pada pukul 11.00 waktu Florida, AS.

