Harga Minyak Naik Setelah AS Cegat Kapal Tanker Venezuela
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia menguat pada awal perdagangan pekan ini Senin (22/12/2025) setelah otoritas Amerika Serikat (AS) mencegat kapal tanker minyak di perairan internasional lepas pantai Venezuela. Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan global di tengah tensi geopolitik yang masih tinggi.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) acuan AS naik US$ 1,60 atau 2,65% ditutup di level US$ 62,07 per barel. Sementara itu, harga patokan global Brent naik US$ 1,49 atau 2,64% berakhir di US$ 58,01 per barel.
Kenaikan harga ini mencerminkan meningkatnya sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik yang berpotensi mengganggu arus pasokan minyak global. Venezuela, meskipun hanya menyumbang sekitar 1% dari total pasokan minyak dunia, tetap menjadi perhatian karena kebijakan sanksi Amerika Serikat yang semakin agresif.
Baca Juga
35% Minyakita Wajib Disalurkan ke BUMN Pangan, Kemendag: Percepat Pemerataan Distribusi
Analis pasar minyak senior Sparta Commodities, June Goh menilai, pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap pendekatan pemerintah Amerika Serikat. “Pasar mulai menyadari bahwa pemerintahan Trump mengambil pendekatan garis keras terhadap perdagangan minyak Venezuela,” kata June Goh dilansir CNBC.
Ia menambahkan bahwa sentimen geopolitik memperkuat harga minyak, meski kondisi fundamental pasar masih lemah. “Dengan demikian, harga minyak telah didukung berita geopolitik ini di samping ketegangan Rusia-Ukraina yang memanas di tengah pasar yang secara fundamental sangat bearish,” ujar Goh.
Sementara pejabat AS mengungkapkan bahwa penjaga pantai AS sedang mengejar sebuah kapal tanker minyak di perairan internasional dekat Venezuela. Operasi ini berpotensi menjadi yang kedua dalam akhir pekan dan yang ketiga dalam kurun waktu kurang 2 minggu, menurut keterangan para pejabat kepada Reuters.
Analis IG Tony Sycamore menilai lonjakan harga minyak juga dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait pengetatan kebijakan. Menurutnya, pasar merespons pengumuman Trump mengenai blokade “total dan menyeluruh” terhadap kapal tanker minyak Venezuela yang dikenai sanksi, serta perkembangan lanjutan di kawasan tersebut.
Selain isu Venezuela, pasar mencermati eskalasi konflik di kawasan lain. Sycamore menyoroti laporan serangan pesawat tanpa awak Ukraina terhadap kapal armada bayangan Rusia di wilayah Mediterania sebagai faktor tambahan yang memperkuat sentimen risiko di pasar energi global.
Baca Juga
Di sisi geopolitik Eropa Timur, utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff menyampaikan bahwa pembicaraan antara pejabat Amerika Serikat, Eropa, dan Ukraina di Florida selama 3 hari terakhir difokuskan pada upaya menyelaraskan posisi untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Ia menyebutkan bahwa pertemuan tersebut, bersama dengan pembicaraan terpisah dengan negosiator Rusia, telah berlangsung produktif.
Namun, optimisme tersebut belum sepenuhnya terkonfirmasi. Ajudan kebijakan luar negeri utama Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa perubahan yang diajukan Eropa dan Ukraina terhadap proposal AS belum memperbaiki prospek tercapainya perdamaian, sehingga ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar global, termasuk sektor energi.

