Natal di Rusia Dirayakan 7 Januari, Mengapa?
Poin Penting
|
MOSKOW, investortrust.id - Bagi sebagian besar dunia Barat, Natal dirayakan pada 25 Desember dengan gemerlap lampu, pesta keluarga, dan hiruk-pikuk liburan akhir tahun. Namun di Rusia, suasananya berbeda. Natal justru jatuh pada 7 Januari, hampir dua minggu setelah perayaan di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Perbedaan ini bukan sekadar soal tanggal, melainkan cerminan dari sejarah panjang, teologi, dan peran kuat Gereja Ortodoks Rusia dalam kehidupan masyarakatnya.
Baca Juga
Akar perbedaan tersebut terletak pada kalender yang digunakan Gereja Ortodoks Rusia. Dikutip dari indulgexpress.com, Jumat (26/12/2025), hingga kini gereja masih berpegang pada Kalender Julian Lama untuk seluruh perayaan keagamaannya. Kalender ini pertama kali diperkenalkan oleh Julius Caesar pada 45 SM dan digunakan oleh umat Kristen awal, termasuk di wilayah Rus Kiev yang memeluk agama Kristen pada tahun 988. Ketika Gereja Ortodoks Rusia memilih mempertahankan kalender tersebut, mereka menegaskan komitmen pada tradisi Kristen kuno yang dianggap sebagai fondasi iman Ortodoks.
Sebaliknya, Kalender Gregorian yang digunakan hampir di seluruh dunia saat ini diperkenalkan pada 1582 oleh Paus Gregorius XIII. Kalender ini dirancang untuk memperbaiki ketidaktepatan astronomis Kalender Julian. Reformasi tersebut diterima luas di Eropa Barat, tetapi ditolak oleh Gereja Ortodoks Rusia. Bagi otoritas gereja, mengganti kalender berarti mengubah siklus liturgi dan memutus keterhubungan dengan masa lalu gereja yang telah berlangsung lebih dari satu milenium.
Akibat perbedaan tersebut, Kalender Julian kini tertinggal 13 hari dari Kalender Gregorian. Artinya, tanggal 25 Desember dalam Kalender Julian jatuh pada 7 Januari dalam kalender yang digunakan secara internasional. Inilah alasan utama mengapa Natal Rusia dirayakan pada awal Januari.
Sejarah modern Rusia juga ikut membentuk wajah Natal di negara itu. Setelah Revolusi Bolshevik, pemerintah Soviet mengadopsi Kalender Gregorian pada 1918, tetapi secara bersamaan menjalankan kebijakan antiagama yang ketat. Natal secara aktif ditekan dan nyaris dihapus dari ruang publik.
Sebagai gantinya, perayaan Tahun Baru dijadikan momen utama perayaan nasional. Tradisi memberi hadiah, pohon hias, dan pertemuan keluarga dialihkan ke malam Tahun Baru, menjadikan Natal jauh kurang menonjol secara budaya dibandingkan perayaan pergantian tahun.
Baru setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991, Natal kembali mendapatkan tempatnya. Pemerintah Rusia menetapkan 7 Januari sebagai hari libur nasional. Meski demikian, karakter Natal di Rusia tetap berbeda. Perayaan ini lebih bersifat religius daripada meriah. Umat Ortodoks menjalani masa puasa sebelum Natal, menghadiri kebaktian malam yang khidmat, dan merayakannya dengan makan malam keluarga yang sederhana, jauh dari pesta besar dan perayaan publik yang mencolok.
Baca Juga
Sukacita Natal Kembali ke Betlehem di Tengah Serangan Israel ke Gaza
Dengan demikian, Natal Rusia bukan hanya soal perbedaan tanggal. Ia adalah cermin dari keteguhan tradisi gereja, benturan sejarah antara iman dan negara, serta identitas budaya yang dibentuk oleh perjalanan panjang Rusia dari masa Kristen awal, era Soviet, hingga Rusia modern saat ini.

