Sukacita Natal Kembali ke Betlehem di Tengah Serangan Israel ke Gaza
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ribuan orang berkumpul di Betlehem pada Malam Natal untuk perayaan publik pertama sejak tahun 2022 setelah kota itu membatalkan atau mengurangi kemeriahan perayaan selama dua tahun. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada ribuan orang yang tewas selama perang genosida Israel di Gaza.
Keluarga-keluarga memadati Alun-Alun Manger di kota Tepi Barat yang diduduki saat pohon Natal raksasa kembali ke alun-alun, menggantikan pajangan kelahiran Yesus yang digunakan selama perang yang menampilkan bayi Yesus di tengah reruntuhan dan kawat berduri, melambangkan kehancuran di Gaza.
Melansir dari Aljazeera, Kamis (25/12/2025), perayaan tersebut dipimpin oleh Kardinal Pierbattista Pizzaballa, pemimpin Katolik tertinggi di Tanah Suci, yang tiba di Betlehem dari Yerusalem dalam prosesi Natal tradisional dan menyerukan "Natal yang penuh cahaya". Kemudian, grup-grup pramuka dari berbagai kota di Tepi Barat berbaris melewati jalan-jalan Betlehem, alat musik bagpipe mereka dihiasi dengan kain tartan dan bendera Palestina.
Sejak dimulainya perang genosida Israel di Gaza, pasukan Israel telah melakukan penggerebekan hampir setiap hari di seluruh Tepi Barat. Selain itu, mereka juga menangkap ribuan warga Palestina dan membatasi pergerakan antar kota secara drastis.
Warga Palestina mengatakan peningkatan kehadiran militer, penutupan jalan, dan penundaan di pos pemeriksaan telah menghalangi pengunjung, melumpuhkan sektor pariwisata yang menjadi tumpuan ekonomi Betlehem. Sebagian besar dari mereka yang merayakan adalah penduduk setempat, dengan hanya sejumlah kecil pengunjung asing.
Baca Juga
Kardinal Suharyo Gaungkan Tobat Ekologis Demi Pelestarian Alam
Sebelumnya, Walikota Maher Nicola Canawati mengatakan, tingkat pengangguran di Bethlehem melonjak dari 14% menjadi 65% selama perang genosida di Gaza. Seiring memburuknya kondisi ekonomi, sekitar 4.000 penduduk meninggalkan kota untuk mencari pekerjaan, tambahnya.
Kembalinya perayaan Natal terjadi di tengah-tengah serangan dan invasi militer skala besar yang terus berlanjut di seluruh Tepi Barat yang diduduki, bahkan setelah gencatan senjata yang rapuh di Gaza, yang telah berulang kali dilanggar oleh pasukan Israel, diberlakukan pada bulan Oktober.
Penggerebekan tersebut sering kali melibatkan penangkapan massal warga Palestina, penggeledahan dan penghancuran rumah, serta serangan fisik yang terkadang menyebabkan kematian. Serangan yang dilakukan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina telah mencapai tingkat tertinggi sejak kantor kemanusiaan PBB mulai mencatat data pada tahun 2006. Serangan tersebut melibatkan pembunuhan , pemukulan, dan perusakan properti, seringkali di bawah perlindungan militer Israel.
Sebelumnya kantor berita Palestina Wafa melaporkan bahwa pada hari Rabu, lebih dari 570 pemukim Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki di bawah perlindungan polisi. Warga Palestina mengatakan bahwa serangan semacam itu melanggar status quo yang telah lama berlaku yang mengatur situs tersuci ketiga dalam Islam.

