Natal di Taiwan: Perayaan Kembali Setelah 25 Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Taiwan mendapatkan hari libur Natal untuk pertama kalinya dalam 25 tahun. Perubahan ini terjadi setelah partai-partai oposisi mengesahkan undang-undang awal tahun ini untuk menambah atau mengembalikan lima hari libur nasional, termasuk Hari Konstitusi, yang jatuh pada hari ini, Kamis (25/12/2025).
Hari itu menandai pengesahan konstitusi Republik Tiongkok pada tahun 1947, sebagaimana pemerintah di Taipei secara resmi dikenal. Saat itu Republik Tiongkok, yang saat itu diperintah oleh Partai Nasionalis Tiongkok (KMT), memerintah Tiongkok dan berpusat di Nanjing, sebelum sepenuhnya pindah ke Taipei setelah KMT kalah dalam perang saudara Tiongkok melawan Partai Komunis Tiongkok.
Ketika KMT yang sekarang menjadi partai oposisi di Taiwan mengesahkan undang-undang tentang hari libur, mereka mengatakan bahwa hari libur tersebut akan membantu "memperingati sejarah pembangunan nasional." Itulah narasi yang digunakan KMT untuk menekankan hubungan historisnya dengan Tiongkok.
Tanggal tersebut tampaknya dipilih oleh orang yang memerintah Taiwan selama lebih dari dua dekade, yakni Chiang Kai-shek (蔣介石), seorang Kristen yang dibaptis dan makamnya dihiasi dengan salib. Chiang mengatakan dalam pidato radio beberapa hari sebelum konstitusi berlaku bahwa Natal tahun 1947, yang menandai kelahiran Yesus, akan menjadi hari yang mengantarkan awal baru bagi Republik Tiongkok dan seluruh rakyatnya, sebuah persatuan, kemerdekaan, kesetaraan, dan kebebasan.
Baca Juga
Sukacita Natal Kembali ke Betlehem di Tengah Serangan Israel ke Gaza
Melansir dari Taipei Times, Kamis (25/12/2025), selama beberapa dekade, masyarakat Taiwan secara tidak resmi merayakan Natal pada Hari Konstitusi, hingga negara tersebut mulai beralih ke lima hari kerja dalam seminggu pada tahun 2001 dan menghapus beberapa hari libur nasional.
Seperti di banyak belahan dunia lainnya, Natal di Taiwan merupakan fenomena budaya dan komersial yang populer. Para amnggota masyarakat mengajak teman-teman mereka berkumpul untuk merayakan, dan pusat perbelanjaan mewah di Taipei dihiasi dengan nuansa liburan, lengkap dengan musik Natal yang familiar.
Libur tambahan lima hari dalam setahun juga populer di kalangan pekerja di seluruh negara berpenduduk 23 juta jiwa ini. Menurut Kementerian Tenaga Kerja, rata-rata pekerja Taiwan bekerja sekitar 2.030 jam kerja pada tahun 2024, terbanyak keempat di antara 37 negara ekonomi utama.

