Ekspor China Oktober Turun, Pengiriman ke AS Anjlok 25%
Poin Penting
• Ekspor China alami kontraksi 1,1% di Oktober, berlawanan dengan perkiraan pertumbuhan 3%
• Pengiriman ke AS merosot 25%, menandai penurunan dua digit selama tujuh bulan berturut-turut
• Penurunan terjadi di tengah basis tinggi tahun lalu dan perlambatan momentum ekspor pra-KTT AS–China
• Ekonom prediksi Beijing akan andalkan permintaan domestik untuk menopang pertumbuhan 2026–2030
BEIJING, investortrust.id – Ekspor China turun secara tak terduga pada Oktober, penurunan pertama dalam hampir dua tahun. Penurunan dipicu oleh base effect yang tinggi dan berkurangnya dorongan perusahaan dalam mempercepat pengiriman menjelang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping.
Baca Juga
Ekspor China ke AS Anjlok 33% Imbas Tarif Trump, Beijing Alihkan Fokus ke Asia & Afrika
Data bea cukai menunjukkan ekspor China menyusut 1,1% dalam denominasi dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya — kontraksi pertama sejak Maret 2024 ketika ekspor anjlok 7,5%. Angka ini mengejutkan pasar, karena para ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan pertumbuhan 3%, setelah pada September ekspor sempat melonjak 8,3%, tertinggi dalam enam bulan.
Sementara itu, impor naik 1% bulan lalu, lebih rendah dari perkiraan 3,2%, karena lemahnya pasar perumahan dan ketatnya pasar tenaga kerja terus menekan permintaan konsumen. Pada September, impor sempat tumbuh 7,4%.
“Sepertinya dorongan pengiriman lebih awal (frontloading) akhirnya memudar pada Oktober,” ujar Zhiwei Zhang, presiden dan kepala ekonom di Pinpoint Asset Management, dikutip dari CNBC, Jumat (7/11/2025). Ia memperkirakan ekspor China akan kembali normal setelah kebijakan pembatasan perdagangan ditangguhkan selama setahun.
Ketegangan dagang antara Beijing dan Washington sedikit mereda setelah pertemuan Trump–Xi di Korea Selatan minggu lalu. Kedua negara sepakat mencabut sebagian langkah hukuman, termasuk tarif tinggi dan pembatasan ekspor mineral serta teknologi penting, sementara China berjanji membeli lebih banyak kedelai AS dan bekerja sama menindak peredaran fentanyl.
Baca Juga
Trump Turunkan Tarif China Jadi 47% Usai Pertemuan dengan Xi di Busan
Sebagai hasil dari kesepakatan tersebut, tarif efektif AS terhadap ekspor China turun menjadi sekitar 31%, menurut estimasi Macquarie Group.
Namun, ekspor China ke AS tetap anjlok 25% pada Oktober dari tahun sebelumnya — penurunan dua digit selama tujuh bulan berturut-turut. Impor dari AS juga turun hampir 23%. Sepanjang 10 bulan pertama tahun ini, pengiriman barang China ke AS turun 17,8%, sedangkan impor dari AS menurun 12,6%, mempersempit surplus perdagangan bilateral hingga 20% menjadi US$233 miliar.
Penurunan tersebut juga disebabkan oleh tingginya basis perbandingan pada Oktober 2024, ketika ekspor China tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari dua tahun.
Meski ekspor ke AS merosot, total ekspor China tetap tumbuh 5,3% hingga Oktober, berkat upaya eksportir mengalihkan pasar ke kawasan lain. Ekspor ke ASEAN melonjak 14,3%, ke Uni Eropa naik 7,5%, dan ke Afrika melonjak 26,1% dalam 10 bulan pertama tahun ini.
Secara keseluruhan, China mencatat surplus perdagangan lebih dari US$964,8 miliar hingga Oktober — naik 23% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Lembaga riset Oxford Economics memperkirakan ekspor China akan tumbuh antara 3,5% hingga 5% per tahun secara riil, didorong oleh rencana lima tahun Beijing berikutnya yang menekankan pendalaman industrialisasi dan diversifikasi pasar ekspor ke kawasan regional serta negara berkembang. Lembaga tersebut juga menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB riil China menjadi 4,5% untuk 2026 dan 4,4% untuk 2027.
Baca Juga
Perlambatan Ekonomi China Kian Dalam, Investasi Real Estat Anjlok 12,9%
“Sekarang momentum ekspor melemah, China perlu lebih bergantung pada permintaan domestik,” tambah Zhang, memperkirakan pembuat kebijakan akan meluncurkan stimulus fiskal baru pada kuartal pertama tahun depan.
Pandangan itu sejalan dengan Larry Hu, kepala ekonom China di Macquarie Group, yang menilai Beijing akan mengandalkan konsumsi domestik sebagai pendorong utama pertumbuhan untuk mencapai target PDB tahunan “antara 2026 dan 2030.”
Beijing diperkirakan akan mempertahankan target pertumbuhan sekitar 5% pada 2026 dan menyesuaikan stimulus agar tidak melampaui atau meleset dari sasaran tersebut.
Harga yang terus turun serta persaingan harga ekstrem telah mendorong pemerintah memperketat pengendalian kelebihan kapasitas industri dalam beberapa bulan terakhir. Laba perusahaan industri besar naik 3,2% dalam sembilan bulan pertama tahun ini, meskipun data Oktober menunjukkan aktivitas manufaktur telah menyusut selama tujuh bulan berturut-turut di tengah memanasnya kembali ketegangan dagang dengan Washington.

