Abaikan Ancaman Trump, China Lanjutkan Kerja Sama Perdagangan dan Energi dengan Rusia
BEIJING, investortrust.id – China menolak tekanan Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan impor energi dari Rusia. Pemerintah Beijing mengabaikan ancaman Presiden AS Donald Trump dan menegaskan bahwa kerja sama energi dengan Moskow bersifat sah, legal, dan tidak dapat diintervensi oleh pihak mana pun.
Baca Juga
Tuding AS Terapkan ‘Standar Ganda’, China Tak Gentar Hadapi Ancaman Tarif Baru Trump
“Kerja sama perdagangan dan energi China yang lazim dengan negara-negara lain, termasuk Rusia, adalah sah dan sesuai hukum. Apa yang dilakukan AS adalah bentuk intimidasi sepihak dan pemaksaan ekonomi,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (16/10/2025), seperti dikutip Antara.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump mengatakan bahwa Perdana Menteri India Narendra Modi telah setuju menghentikan pembelian minyak dari Rusia. Trump juga menegaskan akan menekan China untuk mengambil langkah serupa, dengan dalih membatasi sumber pendanaan perang Rusia di Ukraina.
Namun Beijing menolak keras tekanan itu. Lin Jian menilai langkah Washington sebagai bentuk pelanggaran terhadap tatanan ekonomi global. “Tindakan itu akan sangat mengganggu aturan ekonomi dan perdagangan internasional serta mengancam keamanan dan stabilitas rantai industri dan pasokan global,” katanya.
Menurut Lin, posisi China terhadap krisis Ukraina bersifat “objektif, adil, dan transparan.” Ia juga menegaskan bahwa Beijing tidak akan tinggal diam jika hak dan kepentingan nasionalnya dirugikan akibat kebijakan sepihak AS. “Jika hak dan kepentingan sah China dirugikan, kami akan mengambil tindakan balasan yang tegas untuk mempertahankan kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan kami,” tegasnya.
China, lanjut Lin, tetap berkomitmen untuk mendorong solusi damai atas konflik Ukraina. Beijing juga menegaskan bahwa hubungan dagang dan energi antara perusahaan China dan Rusia bersifat normal dan tidak boleh terganggu oleh tekanan politik. “Pertukaran dan kerja sama biasa antara perusahaan China dan Rusia tidak boleh terpengaruh. Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mempertahankan hak dan kepentingan kami yang sah,” ujarnya.
Sementara itu, Trump dalam pernyataannya mengatakan bahwa India kini telah mulai menghentikan pembelian minyak Rusia secara bertahap. “Sudah dimulai. Ini tidak bisa dilakukan seketika, tetapi proses itu akan segera selesai,” kata Trump.
Baca Juga
Trump Tekan India, Kenakan Tarif Tertinggi 50% Gara-gara Minyak Rusia
Rusia selama ini bergantung pada ekspor minyak dan gas sebagai sumber utama pendapatan negaranya. Tiga pelanggan utama Moskow adalah China, India, dan Turki. Pemerintahan Trump sebelumnya telah mengenakan tarif 50 persen untuk barang-barang impor dari India sebagai bentuk sanksi atas pembelian minyak dan senjata dari Rusia. Tarif yang mulai berlaku sejak Agustus itu merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, dengan tambahan penalti 25 persen untuk setiap transaksi terkait Rusia.
Selain AS, Inggris juga menjatuhkan sanksi terhadap dua perusahaan energi China, perusahaan minyak terbesar Rusia, serta perusahaan penyulingan India Nayara Energy Ltd. atas dugaan keterlibatan mereka dalam perdagangan bahan bakar Rusia.
Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Barat memperketat tekanan terhadap sektor energi Rusia, demi membatasi pendanaan yang digunakan Presiden Vladimir Putin untuk melanjutkan perang di Ukraina. Namun bagi Beijing, tekanan itu justru menegaskan pentingnya memperkuat kemitraan energi dengan Rusia di tengah ketidakpastian geopolitik global.

