Siapa Sanae Takaichi, si 'Iron Lady' yang Bakal Memimpin Jepang
Poin Penting
|
TOKYO, Investortrust.id - Sanae Takaichi, bakal dipastikan menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang. Selama ini ia telah dikenal sebagai tokoh sayap kanan yang vokal mengkritik China dan menyoroti isu imigrasi dalam kampanyenya.
Ketika para kandidat pemimpin Partai Demokrat Liberal (Liberal Democratic Party/LDP) Jepang diminta menyampaikan beberapa kata dalam bahasa Inggris dalam sebuah debat, Takaichi memilih mengucapkan kalimat yang singkat saja: "Japan is back," katanya.
Kemenangannya pada Sabtu (4/10/2025) menandai kemunculan wajah baru Jepang. Delapan dekade setelah berakhirnya Perang Dunia II, negara itu kini bersiap untuk dipimpin oleh seorang perdana menteri perempuan untuk pertama kalinya.
Politisi berusia 64 tahun ini merupakan tokoh konservatif yang sempat menyebut Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher sebagai inspirasinya dalam upaya membangun Jepang yang “kuat dan makmur.” Maka tak berlebihan jika ia layak disebut sebagai 'Iron Lady' ala Jepang.
Ia berhasil mengalahkan rival sentrisnya, Shinjiro Koizumi, dalam pemungutan suara putaran kedua di markas besar LDP di Tokyo.
Baca Juga
Sanae Takaichi Terpilih Pimpin LDP, Jepang Siap Miliki PM Wanita Pertama dalam Sejarah
Berbeda dengan para pendahulunya, Takaichi belum secara pasti akan menduduki kursi perdana menteri ketika parlemen bersidang pada 15 Oktober. LDP dan mitra koalisinya, Komeito, telah kehilangan mayoritas di kedua majelis Diet dalam setahun terakhir, sehingga mereka memerlukan dukungan dari partai oposisi untuk menyetujui pengangkatannya. Meski demikian, banyak pengamat yakin hal itu hampir pasti akan terjadi.
Kemenangan ini menjadi bentuk kebangkitan politik bagi Takaichi, yang pada tahun sebelumnya kalah dalam pencalonannya melawan Perdana Menteri Shigeru Ishiba. Kampanyenya sempat terguncang pekan lalu setelah ia dikritik telah menyampaikan klaim tanpa bukti dalam debat, bahwa warga asing telah menyiksa rusa yang dianggap “keramat” di Nara, daerah pemilihannya sejak 1993.
Kemenangan Takaichi juga menjadi dorongan bagi kubu sayap kanan dalam LDP, yang selama ini merasa terpinggirkan di bawah kepemimpinan Ishiba yang lebih moderat. Ia dikenal memiliki hubungan ideologis yang erat dengan mantan Perdana Menteri Shinzo Abe, yang dibunuh pada 2022. Berbagi pandangan revisionis terhadap sejarah perang Jepang kerap dinilai bisa mengancam posisinya karena berpotensi menimbulkan gesekan dengan negara-negara tetangga.
Takaichi dikenal kerap mengkritik kebijakan China dan rutin mengunjungi Kuil Yasukuni di Tokyo, yang menghormati tentara Jepang yang gugur, termasuk penjahat perang yang telah divonis.
Dalam kebijakan sosial, ia juga dikenal sangat konservatif. Ia menentang pernikahan sesama jenis dan penggunaan nama keluarga terpisah bagi pasangan suami istri — sebuah usulan populer di kalangan pemilih, namun menurutnya akan merusak nilai-nilai tradisional keluarga Jepang.
Ia juga menolak gagasan tentang kaisar perempuan yang berkuasa.
Baca Juga
Abe juga berpengaruh besar dalam pandangan ekonomi Takaichi. Ia mendukung pengeluaran publik agresif untuk merangsang pertumbuhan ekonomi keempat terbesar di dunia, dan bahkan mengusulkan renegosiasi kesepakatan dagang dan investasi dengan Amerika Serikat yang sebelumnya disepakati oleh Donald Trump, termasuk pelonggaran tarif untuk mobil Jepang sebagai imbal balik atas investasi Jepang sebesar 550 miliar dolar AS.
Isu imigrasi menjadi sorotan utama kampanyenya — bahkan menghabiskan delapan menit pertama dari pidato kampanye berdurasi 15 menit. Takaichi menyerukan pembatasan kepemilikan properti oleh warga asing dan pengetatan terhadap imigrasi ilegal — pandangan yang juga dibagikan oleh keempat lawannya.
Takaichi adalah penggemar tim bisbol Hanshin Tigers dan memiliki sisi yang unik: ia pernah menjadi drummer dalam band heavy metal saat kuliah. Hobi lainnya termasuk menyelam dan menonton seni bela diri, demikian dikutip dari TheGuardian.

