Oposisi Bersatu, Sanae Takaichi Berpotensi Gagal Jadi Perdana Menteri Wanita Jepang
Poin Penting
|
TOKYO, Investortrust.id – Partai oposisi utama Jepang tengah berupaya membentuk koalisi bersama partai-partai lain guna mendukung satu kandidat perdana menteri yang bersatu, sebagai langkah untuk menggagalkan pencalonan Sanae Takaichi. Takaichi, seorang politisi konservatif, baru saja terpilih sebagai Presiden Partai Demokrat Liberal (LDP) pekan lalu, tetapi masih membutuhkan persetujuan parlemen untuk secara resmi menjabat sebagai perdana menteri.
Diberitakan CNANews, Sabtu (11/10/2025), situasi politik Jepang berubah drastis setelah mitra koalisi junior LDP, Partai Komeito, mengakhiri aliansi yang telah terjalin selama 26 tahun pada Jumat, 10 Oktober. Keputusan ini membuat peluang Takaichi untuk menjadi perempuan pertama yang memimpin Jepang berada dalam bahaya. Perpecahan ini menjerumuskan Jepang ke dalam krisis politik baru, setelah hampir 25 tahun pemerintahan koalisi yang stabil.
Baca Juga
Para Ekonom Mulai 'Bacain' Kebijakan Ekonomi Jepang di Bawah Sanae Takeichi, Apa Kata Mereka?
Ketua Partai Demokrat Konstitusional Jepang (CDP), Yoshihiko Noda, mengatakan bahwa ini adalah kesempatan langka yang hanya datang sekali dalam satu dekade untuk melakukan perubahan pemerintahan. Dalam wawancara untuk podcast media bisnis Nikkei, Noda menyebut dirinya akan mendorong agar oposisi bersatu dan mendukung satu kandidat sebagai penantang Takaichi. Salah satu nama yang disebut berpotensi diusung adalah Yuichiro Tamaki, ketua Partai Demokrat untuk Rakyat (DPP), yang menyatakan kesiapannya untuk maju.
Namun, upaya pembentukan koalisi ini tidak mudah. CDP dan DPP memiliki perbedaan kebijakan yang cukup signifikan, yang bisa menjadi penghalang utama bagi kerja sama mereka. Jika oposisi gagal menyepakati satu kandidat alternatif, peluang Takaichi untuk tetap menang akan meningkat, meskipun secara matematis dia belum mengamankan mayoritas di parlemen.
Di Majelis Rendah yang memiliki kekuasaan besar, LDP saat ini hanya memiliki 196 kursi, sementara CDP memiliki 148, DPP 27, dan Komeito 24. Untuk menjadi perdana menteri, Takaichi membutuhkan dukungan minimal 233 kursi. Angka ini tampak sulit diraih tanpa dukungan Komeito.
Baca Juga
Sanae Takaichi Terpilih Pimpin LDP, Jepang Siap Miliki PM Wanita Pertama dalam Sejarah
Partai Komeito sendiri telah menyatakan bahwa mereka akan mencalonkan ketua partai mereka, Tetsuo Saito, sebagai kandidat alternatif. Saito menjelaskan bahwa alasan utama mereka menarik diri dari koalisi adalah karena LDP gagal memperketat aturan pendanaan partai politik, menyusul skandal tahun lalu yang melibatkan jutaan dolar dari penjualan tiket acara penggalangan dana.
Penunjukan Koichi Hagiuda oleh Takaichi ke posisi penting dalam partai semakin memicu ketegangan. Hagiuda sebelumnya terlibat dalam skandal tersebut, dan keputusannya dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai integritas publik yang dijunjung oleh Komeito, partai yang berafiliasi dengan organisasi Buddha awam Soka Gakkai.
Menurut analisis dari harian Yomiuri Shimbun, sekitar 20% anggota parlemen dari LDP berisiko kehilangan kursi mereka tanpa dukungan dari Komeito dalam pemilu mendatang. Meski kecil secara jumlah, Komeito memiliki pengaruh besar dalam memenangkan suara, terutama berkat jaringan pemilih setianya.

