Wall Street Melemah Tiga Hari Beruntun, Dow Tergerus Lebih dari 400 Poin
Poin Penting:
- S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones kompak turun untuk hari ketiga.
- Oracle anjlok 5%, kini turun 16% dari level tertinggi.
- Yield Treasury 10 tahun naik ke 4,2% pasca data ekonomi solid.
- Investor waspada rilis PCE dan potensi government shutdown.
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS melemah pada Kamis waktu AS atau Jumat (26/9/2025) WIB. Ketiga indeks utama Wall Street ditutup di zona merah, terbebani oleh pelemahan lanjutan Oracle dan lonjakan imbal hasil obligasi.
Baca Juga
Pasar Saham AS Tumbang, Nvidia dan Oracle Tekan Indeks Wall Street
Indeks S&P 500 turun 0,50% ke 6.604,72, sedangkan Nasdaq Composite melemah ke 22.384,70. Dow Jones Industrial Average kehilangan 173,96 poin atau 0,38% ke 45.947,32. Selama tiga hari pelemahan, Dow Jones tergerus 434,22 poin.
Oracle merosot 5%, memperpanjang tren turun tiga hari, di tengah keraguan soal prospek perdagangan kecerdasan buatan. Aksi jual dipicu oleh kekhawatiran valuasi yang terlalu tinggi serta analisis Redburn Rothschild & Co. yang memberi peringkat “jual” dan memperkirakan penurunan 40%.
Sejak puncaknya, saham Oracle sudah turun hampir 16%. “Oracle telah melonjak terlalu cepat. Koreksi wajar terjadi melihat valuasi yang meledak,” kata Keith Buchanan, manajer portofolio senior Globalt Investments, seperti dikutip CNBC. Ia juga menyoroti skeptisisme atas proyeksi pertumbuhan infrastruktur cloud yang diumumkan awal bulan ini. Tesla juga turun 4%, ikut membebani sektor teknologi.
Kenaikan imbal hasil obligasi semakin menekan saham teknologi, dengan yield Treasury 10 tahun menyentuh 4,2% setelah klaim pengangguran keluar lebih rendah dari perkiraan. Klaim awal tercatat 218.000, di bawah estimasi 235.000.
Baca Juga
Data ketenagakerjaan yang solid dan revisi naik PDB kuartal II ke 3,8% bisa membuat The Fed lebih berhati-hati memangkas bunga, mengurangi katalis utama reli pasar. Investor kini menunggu rilis indeks harga PCE pada Jumat dan mengamati potensi shutdown pemerintah, yang bisa memicu pemutusan kerja massal di instansi federal.

