Trump Desak NATO Beri Sanksi Rusia dan Putus 'Cengkeraman' China
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Presiden AS Donald Trump kembali menekan sekutu NATO untuk mengambil langkah tegas terhadap Rusia dengan menghentikan pembelian minyak Moskow. Trump menyatakan dirinya siap menjatuhkan “sanksi besar” bila semua anggota NATO mengambil posisi serupa.
Baca Juga
Trump Terpojok, Xi Satukan Rusia, Korea Utara, dan Iran di Beijing
Tidak hanya itu, Trump juga mendesak agar negara-negara NATO menjatuhkan tarif 50% hingga 100% pada Tiongkok, yang menurutnya baru dapat dicabut setelah perang Rusia-Ukraina berakhir. Ia menilai, Beijing memiliki cengkeraman kuat atas Rusia, dan tarif besar bisa memutus rantai ketergantungan tersebut.
“Tiongkok memiliki kendali yang kuat, bahkan cengkeraman, atas Rusia, dan tarif yang kuat ini akan memutus cengkeraman itu,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social, yang ia katakan sebagai teks surat yang dikirimkan kepada semua negara NATO dan “dunia.”
Menteri Keuangan Scott Bessent memuji langkah Trump yang mendesak negara-negara NATO menjatuhkan sanksi ketat terhadap Tiongkok.
“Hanya dengan upaya bersama yang memutus pendapatan yang mendanai mesin perang Putin dari sumbernya, kita akan mampu memberikan tekanan ekonomi yang cukup untuk mengakhiri pembunuhan tanpa alasan ini,” tulis Bessent di X.
Trump berulang kali mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia atas invasi ke Ukraina, namun sejauh ini masih menahan diri untuk melakukannya.
Baca Juga
Trump Ultimatum Rusia: Dua Pekan Menuju Damai atau Hadapi 'Tarif Sekunder'
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mendesak sekutu agar tidak “mencari alasan” untuk menghindari sanksi.
“Saya mendesak semua mitra untuk berhenti mencari alasan untuk tidak menjatuhkan sanksi—Eropa, AS, G7, G20,” tulis Zelenskyy pada Sabtu di X.
“Perlu mengurangi konsumsi minyak Rusia, dan ini pasti akan mengurangi kemampuan Rusia untuk berperang. Kita bisa mendengar posisi AS, dan posisi ini harus didengar oleh semua yang masih memilih pasokan dari Rusia daripada mitra lain,” tambahnya.
Awal bulan ini, Trump menyatakan siap bergerak menuju fase kedua sanksi terhadap Rusia, tetapi belum juga memberlakukan pungutan tersebut.
Sebagian dari keraguan Trump untuk menjatuhkan hukuman ekonomi ketat mungkin karena ia berharap bisa menengahi kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia, kata para analis sebelumnya kepada CNBC.
“Alasan kedua ... ada pandangan bahwa jika Rusia kalah ... maka Rusia tidak punya pilihan selain semakin bergantung pada Tiongkok, dan hal itu berpotensi memperkuat posisi Tiongkok,” kata Chris Weafer, CEO Macro-Advisory yang berbasis di Moskow, kepada CNBC awal bulan ini.
Unggahan Trump pada Sabtu menegaskan bahwa ia kini mengalihkan fokus ke negara-negara NATO untuk memberi tekanan pada Rusia agar mengakhiri perang.
“Seperti yang Anda tahu, komitmen NATO untuk menang jauh dari 100%, dan pembelian Minyak Rusia oleh sebagian pihak sungguh mengejutkan!” tulis Trump dalam unggahan itu.
“Itu sangat melemahkan posisi negosiasi dan kekuatan tawar-menawar Anda terhadap Rusia,” lanjutnya. Hungaria dan Slovakia terus membeli bahan bakar fosil Rusia, menuai kritik dari pejabat Trump.
“Kami ingin menggantikan semua gas Rusia. Presiden Trump, Amerika, dan semua negara Uni Eropa, kami ingin mengakhiri perang Rusia-Ukraina,” kata Menteri Energi AS Chris Wright pada Jumat.

