Trump Terpojok, Xi Satukan Rusia, Korea Utara, dan Iran di Beijing
Poin Penting
- Xi Jinping menggelar pertemuan bersejarah dengan Vladimir Putin dan Kim Jong Un di Beijing.
- Rusia dan Tiongkok meneken kesepakatan energi jangka panjang.
- Keterlibatan militer semakin menguat, dengan potensi latihan gabungan trilateral Rusia–Tiongkok–Korea Utara yang dapat mengubah kalkulasi pertahanan di Asia-Pasifik.
- Posisi Trump terpojok, seiring kebijakan isolasionis AS memicu kekhawatiran sekutu.
BEIJING, investortrust.id - Beijing kembali menjadi pusat perhatian geopolitik global. Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Selasa (2/9/2025) mempertemukan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam pertemuan publik pertama mereka, sebuah manuver yang oleh analis Barat dijuluki sebagai pembentukan “Axis of Upheaval”.
Baca Juga
Tolak ‘Mentalitas Perang Dingin’, Xi Jinping Serukan Kerja Sama AI di KTT SCO
Dilansir Reuters, Putin menyebut hubungan dengan Tiongkok berada pada “tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat Xi di Balai Agung Rakyat Beijing. Kim Jong Un, yang tiba dengan kereta lapis baja khasnya, turut menegaskan solidaritas Pyongyang terhadap aliansi ini.
Dengan pemimpin Iran juga dijadwalkan hadir pada parade militer besar Tiongkok pada Rabu, pengaruh diplomatik Xi bersama kelompok rezim otoriter yang dijuluki sebagian analis Barat sebagai 'Poros Pergolakan' datang di saat kebijakan isolasionis Presiden AS Donald Trump menekan aliansi Washington.
Di balik kemeriahan itu, para analis menunggu apakah ketiganya akan memberi sinyal hubungan pertahanan yang lebih erat setelah pakta yang ditandatangani Rusia dan Korea Utara pada Juni 2024, serta aliansi serupa antara Beijing dan Pyongyang, sebuah perkembangan yang berpotensi mengubah kalkulasi militer di kawasan Asia-Pasifik.
‘Pukulan’ buat Trump
Hal ini juga akan menjadi pukulan bagi Trump, yang kerap menonjolkan kedekatannya dengan Putin, Xi, dan Kim, serta menyebut dirinya memiliki kredensial sebagai pencipta perdamaian sementara perang Rusia dengan Ukraina sudah berlangsung tiga setengah tahun.
Baca Juga
Trump Sebut Pertemuan Putin–Zelenskyy Sedang Diatur, Kyiv Siap Tanpa Syarat
Dalam sindiran halus terhadap pesaingnya di seberang Samudra Pasifik pada Senin, Xi mengatakan kepada lebih dari 20 pemimpin negara non-Barat: "Kita harus terus bersikap tegas menentang hegemonisme dan politik kekuasaan."
Xi juga melakukan pembicaraan pada Senin dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, yang bersama Tiongkok menjadi sasaran Trump terkait pembelian minyak Rusia yang dianggap membantu mendanai perang Moskow.
Baca Juga
India–China Jalin Komitmen ‘Kerja Sama’ di Tengah Tekanan Barat
Menteri Keuangan Trump, Scott Bessent, pada Senin menyebut KTT tersebut "hanya pertunjukan" dan menuduh Tiongkok serta India sebagai "aktor buruk" karena turut mendukung perang Rusia.
Saat Putin dan Xi bertemu pada Selasa, Gazprom Rusia (GAZP.MM) dan China National Petroleum Corporation menandatangani kesepakatan untuk meningkatkan pasokan gas dan meresmikan perjanjian jalur pipa baru yang dapat memasok Tiongkok hingga 30 tahun.
Para pemimpin kemudian melanjutkan negosiasi tak disebutkan detailnya bersama delegasi di kediaman pribadi Presiden Tiongkok.
Alarm
Di saat Trump membidik Hadiah Nobel Perdamaian, setiap konsentrasi baru kekuatan militer di Timur yang melibatkan Rusia akan membunyikan alarm bagi Barat.
"Latihan militer trilateral antara Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara tampak hampir tak terelakkan," tulis Youngjun Kim, analis di National Bureau of Asian Research berbasis di AS pada Maret lalu, merujuk bagaimana konflik di Ukraina telah mendekatkan Moskow dan Pyongyang.
"Hingga beberapa tahun lalu, Tiongkok dan Rusia merupakan mitra penting dalam menjatuhkan sanksi internasional terhadap Korea Utara atas uji coba nuklir dan misilnya... (kini) mereka justru menjadi calon mitra militer Republik Demokratik Rakyat Korea saat terjadi krisis di Semenanjung Korea," tambahnya, menggunakan nama resmi negara yang terisolasi itu.
Kim menjadi pemangku kepentingan penting dalam konflik di Ukraina: pemimpin Korea Utara itu telah mengirim lebih dari 15.000 pasukan untuk mendukung perang Putin.
Pada 2024, ia juga menjamu pemimpin Rusia di Pyongyang — pertemuan pertama dalam 24 tahun — sebuah langkah yang secara luas dipandang sebagai tamparan bagi Xi dan upaya untuk mengurangi ketergantungan Korea Utara terhadap Tiongkok.
Sekitar 600 tentara Korea Utara telah tewas bertempur untuk Rusia di wilayah Kursk, menurut badan intelijen Korea Selatan, yang meyakini Pyongyang merencanakan pengiriman tambahan.
Putin juga mengatakan di KTT Shanghai Cooperation Organisation di Tianjin bahwa "keseimbangan yang adil dalam ranah keamanan" harus dipulihkan, sebuah istilah yang biasa dipakai Rusia untuk mengkritik perluasan NATO dan keamanan Eropa ke arah timur.
Kunjungannya ke Beijing dan pertemuan dengan Xi serta Kim diperkirakan memberi petunjuk tentang niat Putin.
Bagi Kim, parade ini akan menjadi acara diplomatik multilateral terbesar yang pernah ia hadiri.
Surat kabar resmi Korea Utara, Rodong Sinmun, menerbitkan foto Kim dan rombongannya di kereta, termasuk Menteri Luar Negeri Choe Son Hui yang sudah lebih dari dua dekade terlibat dalam diplomasi Pyongyang terkait pengembangan senjata.
Sebelum melintasi perbatasan menuju Tiongkok pada Selasa pagi, Kim mengunjungi sebuah laboratorium misil, yang oleh analis digambarkan sebagai langkah yang sudah direncanakan.
"Kunjungan itu dimaksudkan untuk memamerkan status (Korea Utara) sebagai kekuatan nuklir. Berdiri bersama Xi dan Putin, dimaksudkan untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap Korea Utara sebagai negara nuklir," kata Hong Min, analis Korea Utara di Korea Institute for National Unification.
Berbagai persiapan selama berminggu-minggu dilakukan untuk parade 'Hari Kemenangan' yang sangat terkoordinasi, memperingati 80 tahun kekalahan Jepang pada akhir Perang Dunia Kedua, dengan pusat kota Beijing lumpuh karena pengamanan ketat dan pengendalian lalu lintas.
Selain pameran perlengkapan militer mutakhir di depan sekitar 50.000 penonton, otoritas juga akan melepaskan lebih dari 80.000 burung merpati perdamaian dan balon warna-warni.

