India–China Jalin Komitmen ‘Kerja Sama’ di Tengah Tekanan Barat
Poin Penting
- Narendra Modi dan Xi Jinping sepakat India–China adalah mitra Pembangunan.
- Fokus pembicaraan mencakup defisit perdagangan bilateral India yang menembus rekor US$99,2 miliar serta upaya menjaga stabilitas di perbatasan Himalaya.
- Kedua negara menyiapkan langkah konkret: melanjutkan penerbangan langsung, mencabut pembatasan ekspor, dan membuka akses peziarah lintas perbatasan.
- Pertemuan ini dinilai sebagai langkah stabilisasi hubungan.
SHANGHAI, investortrust.id - Di tengah gelombang ketidakpastian global, India dan China berusaha menunjukkan wajah baru hubungan bilateralnya. Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Xi Jinping pada Minggu (31/8/2025) menegaskan kedua negara “adalah mitra pembangunan, bukan rival.”
Baca Juga
India di Tengah Tekanan Global: Tarif AS, Minyak Rusia, dan Diplomasi China
Pernyataan itu muncul dalam pertemuan di sela KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di China, yang dihadiri oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, serta para pemimpin dari Iran, Pakistan, dan negara-negara Asia Tengah. Format KTT di China ini disebut analis sebagai unjuk solidaritas Global South menghadapi tekanan Barat. Modi berada di China untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.
Analis mengatakan Xi dan Modi berupaya menyelaraskan posisi menghadapi tekanan dari Barat, beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif hukuman sebesar total 50% atas barang India, sebagian sebagai respons atas pembelian minyak Rusia oleh New Delhi.
Langkah Trump itu melukai hubungan AS-India yang telah dibangun hati-hati selama beberapa dekade, yang semula diharapkan Washington dapat menjadi penyeimbang regional terhadap Beijing.
Dilansir CNBC, Modi mengatakan kepada Xi bahwa negaranya berkomitmen meningkatkan hubungan dengan China dan membahas pengurangan defisit perdagangan bilateral India yang membengkak hingga hampir US$99,2 miliar, sembari menekankan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di perbatasan yang disengketakan. Bentrokan pada 2020 telah memicu kebuntuan militer selama lima tahun.
“Kami berkomitmen memajukan hubungan kami berdasarkan rasa saling menghormati, saling percaya, dan sensitivitas,” kata Modi dalam pertemuan di sela KTT, menurut video yang diposting di akun resmi X miliknya.
Ia menambahkan bahwa suasana “damai dan stabil” telah tercipta di perbatasan Himalaya yang disengketakan, dan kerja sama kedua negara terkait langsung dengan kepentingan 2,8 miliar penduduk dari dua negara terpadat di dunia.
Kedua negara Asia yang bersenjata nuklir ini berbagi perbatasan sepanjang 3.800 km (2.400 mil) yang tidak jelas penandanya dan telah disengketakan sejak 1950-an.
Xi mengatakan bahwa China dan India merupakan peluang pembangunan bagi satu sama lain, bukan ancaman, menurut kantor berita resmi Xinhua.
“Kita harus … tidak membiarkan masalah perbatasan mendefinisikan keseluruhan hubungan China-India,” demikian dikutip Xinhua atas pernyataan Xi.
Hubungan China-India bisa menjadi “stabil dan menjangkau jauh” jika kedua pihak fokus memandang satu sama lain sebagai mitra, bukan rival, tambahnya.
Hubungan kedua negara retak akibat bentrokan 2020, yang menewaskan 20 tentara India dan empat tentara China dalam pertempuran jarak dekat. Sejak itu, perbatasan Himalaya dimiliterisasi berat oleh kedua pihak.
Sekretaris Luar Negeri India Vikram Misri mengatakan kepada wartawan bahwa situasi perbatasan telah berkembang sepanjang tahun lalu, menyusul kesepakatan patroli pada Oktober. “Situasi di perbatasan bergerak menuju normalisasi,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan tentang tarif AS, ia mengatakan Modi dan Xi membahas “situasi ekonomi” internasional serta tantangan yang ditimbulkannya.
Baca Juga
Trump Resmi Gandakan Tarif Impor India hingga 50%, Hubungan Dagang Memanas
“Mereka mencoba … melihat bagaimana memanfaatkannya untuk membangun pemahaman yang lebih besar di antara mereka dan bagaimana … melanjutkan hubungan ekonomi dan komersial antara India dan China,” ungkapnya.
Para pemimpin juga membahas perluasan titik temu dalam isu bilateral, regional, maupun global, serta tantangan seperti terorisme dan perdagangan adil di forum multilateral, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri India.
Penerbangan Langsung
Kedua pemimpin telah mengadakan pertemuan terobosan di Rusia tahun lalu setelah mencapai kesepakatan patroli perbatasan, yang memicu pencairan awal hubungan dan dipercepat dalam beberapa minggu terakhir saat New Delhi berupaya mengantisipasi ancaman tarif baru dari Washington.
Penerbangan langsung antara kedua negara, yang telah ditangguhkan sejak 2020, akan segera dilanjutkan, tambah Modi, meski tanpa menyebutkan jadwal pasti.
China sepakat mencabut pembatasan ekspor atas mineral tanah jarang, pupuk, dan mesin pengebor terowongan bulan ini, dalam kunjungan penting Menteri Luar Negeri China Wang Yi ke India.
China menentang tarif tinggi Washington terhadap India dan akan “dengan tegas berdiri bersama India,” kata Duta Besar China untuk India Xu Feihong bulan ini.
Dalam beberapa bulan terakhir, China telah mengizinkan peziarah India mengunjungi situs Hindu dan Buddha di Tibet, dan kedua negara juga mencabut pembatasan visa turis timbal balik.
“Saya melihat pertemuan ini sebagai langkah menuju perbaikan bertahap. Pernyataan resmi menunjukkan banyak sinyal politik yang campur aduk … tetapi juga ada kesadaran akan perlunya menstabilkan hubungan dalam konteks arus geopolitik yang lebih luas,” kata Manoj Kewalramani, pakar hubungan Sino-India dari lembaga think tank Takshashila Institution di Bengaluru.
Namun, sejumlah ganjalan jangka panjang masih ada dalam hubungan tersebut.
China adalah mitra dagang bilateral terbesar India, tetapi defisit perdagangan yang berlangsung lama — sumber frustrasi abadi bagi pejabat India — mencapai rekor US$99,2 miliar tahun ini.
Sementara itu, rencana pembangunan bendungan raksasa China di Tibet memicu kekhawatiran akan pengalihan air besar-besaran yang bisa mengurangi aliran air Sungai Brahmaputra hingga 85% di musim kering, menurut perkiraan pemerintah India.
India juga menjadi tuan rumah bagi Dalai Lama, pemimpin spiritual Buddha Tibet di pengasingan yang dipandang Beijing sebagai pengaruh separatis berbahaya. Selain itu, rival utama India, Pakistan, mendapat dukungan ekonomi, diplomatik, dan militer kuat dari China.

