Powell Indikasikan Kemungkinan Pemangkasan Suku Bunga, tapi Tetap ‘Hati-hati’
Poin Penting
- Powell beri sinyal hati-hati soal pemangkasan suku bunga di Jackson Hole.
- Pasar merespons positif: Dow Jones melonjak, yield obligasi turun tajam.
- The Fed tegaskan independensi di tengah tekanan politik dari Trump.
- Komitmen target inflasi 2% kembali ditegaskan usai pengalaman inflasi tinggi.
JACKSON HOLE, investortrust.id - Ketua Federal Reserve Jerome Powell memberikan sinyal hati-hati mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga di tengah tingginya ketidakpastian yang membuat tugas pembuat kebijakan moneter semakin sulit.
Baca Juga
Tunggu Sinyal dari Jackson Hole, Pasar Asia-Pasifik Bergerak ‘Mixed’
Dalam pidato yang sangat dinanti di pertemuan tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, Jumat (22/8/2025), Powell dalam pernyataan tertulis menyinggung “perubahan besar” dalam kebijakan pajak, perdagangan, dan imigrasi. Hasilnya adalah “keseimbangan risiko tampaknya bergeser” antara dua tujuan utama The Fed: lapangan kerja penuh dan stabilitas harga.
Ia mencatat bahwa pasar tenaga kerja masih solid dan ekonomi menunjukkan “ketahanan”, tetapi risiko penurunan semakin meningkat. Pada saat yang sama, ia memperingatkan tarif dapat memicu risiko kenaikan inflasi kembali — skenario stagflasi yang harus dihindari The Fed.
Menurut Powell, dengan suku bunga acuan The Fed satu poin persentase lebih rendah dibanding tahun lalu ketika ia menyampaikan pidato utamanya, dan tingkat pengangguran masih rendah, kondisi saat ini memungkinkan The Fed bergerak hati-hati saat mempertimbangkan perubahan sikap kebijakan.
“Namun demikian, dengan kebijakan di wilayah restriktif, prospek dasar dan pergeseran keseimbangan risiko mungkin memerlukan penyesuaian sikap kebijakan,” bebernya, dikutip dari CNBC.
Baca Juga
Wall Street Melemah Jelang Pidato Powell, Dow Tergerus 150 Poin
Itu adalah indikasi terdekat Powell mendukung pemangkasan suku bunga yang secara luas diyakini Wall Street akan terjadi dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal pada 16-17 September.
Meski begitu, pernyataan itu cukup untuk mendorong lonjakan saham dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah. Dow Jones Industrial Average naik lebih dari 600 poin setelah pidato Powell dipublikasikan, sementara imbal hasil obligasi Treasury 2 tahun yang sensitif terhadap kebijakan turun 0,08 poin persentase ke sekitar 3,71%.
Selain ekspektasi pasar, Presiden Donald Trump menuntut pemangkasan agresif dari The Fed melalui serangan publik keras terhadap Powell dan koleganya.
The Fed mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya di kisaran 4,25%-4,5% sejak Desember. Para pembuat kebijakan terus menekankan ketidakpastian dampak tarif terhadap inflasi sebagai alasan untuk berhati-hati dan percaya kondisi ekonomi saat ini serta sikap kebijakan yang agak ketat memberi waktu untuk mengambil keputusan lebih lanjut.
Baca Juga
Tak Terpengaruh Tekanan Trump, The Fed Kembali Pertahankan Suku Bunga
Pentingnya independensi The Fed
Meski tidak menanggapi tuntutan Gedung Putih untuk menurunkan suku bunga secara spesifik, Powell menekankan pentingnya independensi The Fed.
“Anggota FOMC akan membuat keputusan ini semata-mata berdasarkan penilaian mereka terhadap data dan implikasinya bagi prospek ekonomi serta keseimbangan risiko. Kami tidak akan pernah menyimpang dari pendekatan itu,” katanya.
Pidato itu disampaikan di tengah negosiasi berkelanjutan antara Gedung Putih dan mitra dagang globalnya, sebuah situasi yang kerap berubah dan tanpa kejelasan ke mana akan berakhir. Indikator terbaru menunjukkan harga konsumen meningkat secara bertahap namun biaya grosir naik lebih cepat.
Dari sudut pandang pemerintahan Trump, tarif tidak akan menyebabkan inflasi berkepanjangan, sehingga pemangkasan suku bunga dibenarkan. Namun, Powell dalam pidatonya mengatakan berbagai hasil mungkin terjadi, dengan “skenario dasar yang masuk akal” yakni dampak tarif akan “sementara — sekali geser dalam tingkat harga” yang kemungkinan tidak cukup menjadi alasan mempertahankan suku bunga tinggi. Meski demikian, ia menekankan ketidakpastian.
“Butuh waktu bagi kenaikan tarif untuk merambat melalui rantai pasok dan jaringan distribusi. Selain itu, tarif terus berkembang, yang berpotensi memperpanjang proses penyesuaian,” kata Powell.
Selain merangkum kondisi saat ini dan potensi hasil, pidato itu juga menyinggung tinjauan lima tahunan kerangka kebijakan The Fed. Tinjauan itu menghasilkan sejumlah perubahan signifikan dibandingkan terakhir dilakukan pada 2020.
Saat itu, di tengah pandemi Covid, The Fed beralih ke rezim “penargetan inflasi rata-rata fleksibel” yang memungkinkan inflasi berada di atas target 2% setelah periode panjang berada di bawahnya. Intinya, pembuat kebijakan bisa bersabar dengan inflasi sedikit lebih tinggi jika berarti pemulihan pasar tenaga kerja yang lebih menyeluruh.
Namun, tak lama setelah strategi itu diadopsi, inflasi mulai naik, mencapai level tertinggi 40 tahun, sementara para pembuat kebijakan sebagian besar mengabaikan kenaikan itu sebagai “sementara” dan tidak memerlukan kenaikan suku bunga. Powell menyinggung dampak merugikan dari inflasi serta pelajaran yang didapat.
“Gagasan tentang kelebihan inflasi yang disengaja dan moderat terbukti tidak relevan. Tidak ada yang disengaja atau moderat dari inflasi yang muncul beberapa bulan setelah kami mengumumkan perubahan konsensus 2020, sebagaimana saya akui secara publik pada 2021. Lima tahun terakhir menjadi pengingat menyakitkan akan kesulitan yang ditimbulkan inflasi tinggi, terutama bagi mereka yang paling sulit memenuhi kenaikan biaya kebutuhan pokok,” papar Powell.
Dalam tinjauan itu, The Fed juga menegaskan kembali komitmennya pada target inflasi 2%. Terdapat kritik dari dua sisi, ada yang menilai angka tersebut terlalu tinggi dan bisa melemahkan dolar, sementara ada yang berpendapat bank sentral perlu lebih fleksibel.
“Kami percaya komitmen pada target ini adalah faktor kunci yang membantu menjaga ekspektasi inflasi jangka panjang tetap stabil,” ujar Powell.

