Ekspor Merosot, Jepang Terancam Resesi Akibat Tarif AS
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id - Ekspor Jepang pada bulan Juni menyusut 0,5% secara tahunan, memperpanjang penurunan 1,7% yang tercatat pada bulan Mei, seiring menurunnya pengiriman barang untuk bulan kedua berturut-turut.
Baca Juga
Inflasi Inti Jepang Sentuh Level Tertinggi Sejak Januari 2023
Penurunan ekspor ini berbanding terbalik dengan ekspektasi kenaikan 0,5% menurut jajak pendapat ekonom oleh Reuters, dan terjadi di tengah mandeknya pembicaraan dagang dengan Amerika Serikat.
Ekspor ke Tiongkok — mitra dagang terbesar Jepang — turun 4,7%, sementara ekspor ke AS merosot 11,4% dibandingkan tahun lalu, lebih dalam dari penurunan 11% pada bulan Mei.
Data ini muncul ketika Jepang menghadapi tarif "resiprokal" sebesar 25% dari AS yang akan berlaku mulai 1 Agustus, satu poin persentase lebih tinggi dari tarif 24% yang diumumkan pada "Liberation Day".
Pada Rabu (16/7/2025) pagi waktu AS, Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan bahwa tarif 25% akan dikenakan terhadap impor dari Jepang, dengan menyatakan bahwa ia tidak mengharapkan tercapainya kesepakatan dagang yang lebih luas dengan negara tersebut.
Sejak 3 April, mobil buatan Jepang yang diimpor ke AS juga telah dikenai tarif 25%.
Data dari kementerian perdagangan menunjukkan bahwa ekspor mobil — salah satu sektor andalan ekonomi Jepang — ke AS anjlok 26,7% pada Juni, memperpanjang penurunan 24,7% yang terjadi pada Mei.
Mobil merupakan ekspor terbesar Jepang ke AS, menyumbang 28,3% dari seluruh pengiriman ke negara itu pada tahun 2024, menurut data bea cukai.
Para analis sebelumnya mengatakan kepada CNBC bahwa tambahan tarif tersebut dapat mendorong ekonomi Jepang — yang sangat bergantung pada ekspor — masuk ke dalam jurang resesi.
Ekonomi Jepang telah menyusut pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan kuartal sebelumnya akibat lemahnya ekspor, dan jika terjadi kontraksi lagi, maka Jepang secara teknis akan mengalami resesi.
Ekspor — termasuk jasa — menyumbang hampir 22% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang pada 2023, menurut data terbaru dari Bank Dunia.
Pada 8 Juli, negosiator utama Jepang, Ryosei Akazawa, dilaporkan mengatakan bahwa kesepakatan apa pun harus mencakup konsesi di sektor otomotif bagi negaranya.
Baca Juga
Surat Tarif Trump Picu Ketegangan Baru, PM Jepang: Sangat Disesalkan
Ia juga menepis tenggat waktu apa pun, termasuk tenggat 1 Agustus dari pihak AS, dan menambahkan bahwa ia tidak akan mengorbankan sektor pertanian Jepang demi mengejar kesepakatan cepat.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menargetkan sektor beras Jepang pada 1 Juli, dengan menulis di platform Truth Social bahwa Jepang "tidak mau menerima BERAS kami" meskipun sedang mengalami kekurangan beras di dalam negeri.
Jepang telah mengimpor lebih dari 350.000 ton beras dari AS pada tahun 2024, menjadikan AS sebagai pengekspor beras terbesar ke Jepang pada tahun tersebut.

