Saham Berjangka AS Menguat Jelang Rilis Data Inflasi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Saham berjangka AS bergerak sedikit menguat pada Minggu malam (10/8/2025), dengan pasar kembali berada di ambang rekor tertinggi menjelang sepekan rilis data penting inflasi.
Baca Juga
Wall Street Menguat Ditopang Saham Apple, Nasdaq Cetak Rekor Baru
Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average naik 56 poin atau 0,1%. S&P 500 futures dan Nasdaq 100 futures masing-masing menguat 0,1%.
Pergerakan ini terjadi setelah Nasdaq Composite mengakhiri pekan lalu di level penutupan tertinggi baru, sementara S&P 500 menutup perdagangan di ambang pencapaian rekor berikutnya. Dow juga mengakhiri pekan di zona positif. Reli saham Apple — yang tahun ini menjadi salah satu saham tertinggal — turut menopang pasar.
Kenaikan terbaru ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor tentang berapa lama pasar saham dapat menghindari tekanan, mengingat valuasi yang sangat tinggi, prospek makroekonomi yang suram, serta dampak tarif di tengah periode musiman yang cenderung lemah.
“Kita mungkin akan memasuki fase konsolidasi ketimbang lonjakan besar,” kata Jay Woods, Chief Global Strategist di Freedom Capital Markets, dikutip dari CNBC. Ia memperkirakan, pasar mungkin bergerak menyamping untuk sementara, dan itu bukan hal yang buruk.
Baca Juga
Pejabat The Fed Michelle Bowman Dorong Tiga Kali Pemangkasan Suku Bunga 2025
Data inflasi pekan ini akan menjadi tantangan utama bagi indeks pasar yang berada dekat level tertinggi sepanjang masa. Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan dirilis Selasa dan Indeks Harga Produsen (PPI) yang akan keluar Kamis akan sangat krusial dalam membentuk prospek arah suku bunga, khususnya untuk pertemuan The Federal Reserve pada September. Data inflasi yang lebih panas dari perkiraan dapat menghambat laju kenaikan pasar.
“Yang paling penting adalah data CPI. Itu akan benar-benar menentukan kebijakan moneter,” ujar Woods.
Rilis data inflasi ini datang menjelang pertemuan tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, pada 21–23 Agustus, yang kemungkinan besar akan menentukan arah kebijakan pada pertemuan September.

