Saham Berjangka Wall Street 'Mixed' Jelang Rilis Data Inflasi AS
NEW YORK, investortrust.id - Saham berjangka AS turun pada Minggu malam, tapi kemudian sedikit berubah pada Senin (12/8/2024). Investor bersiap menunggu data inflasi utama, yang akan dirilis pekan ini.
Pada Minggu malam, kontrak berjangka yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average turun 48 poin, atau 0,1%. S&P 500 berjangka turun 0,08% dan Nasdaq 100 berjangka melemah 0,05%. Tapi, pada Senin pagi, S&P 500 Futures dan Nasdaq Futures bergerak positif.
Pada hari Jumat, semua indeks utama naik, tetapi tak mampu mengangkat kinerja mingguan.
“Emosi sedang tinggi dan pasar cenderung berayun. Tak terlalu mengejutkan jika kita mengalami turbulensi selama seminggu lagi,” kata Callie Cox, kepala strategi pasar di Ritholtz Wealth Management, kepada CNBC. “Masyarakat mulai bersiap menghadapi resesi meskipun krisis belum terwujud. Ketakutan sering kali menguntungkan kita sebagai investor pasar saham. Kemungkinan akan ada lebih banyak reli jika data ekonomi dapat bertahan, dan sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga dapat terus memimpin pasar lebih tinggi,” paparnya.
Investor minggu ini berharap untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai keadaan perekonomian setelah kekhawatiran mengenai perlambatan pasar kerja membuat takut para trader dan mengguncang pasar. Pada hari Selasa, mereka akan mengamati laporan indeks harga produsen bulan Juli, diikuti oleh indeks harga konsumen pada hari Rabu, untuk konfirmasi lebih lanjut bahwa pertumbuhan harga terus stabil. Penjualan ritel bulan Juli juga akan dirilis pada hari Kamis.
“Data [inflasi] yang bagus dapat membantu menenangkan kekhawatiran. Investor telah mengambil kesimpulan mengenai perekonomian, dan sekarang mereka akan menganalisis sejumlah data baru untuk menilai seberapa benar aksi jual ini,” papar Cox.
Penjualan ritel dan pendapatan pengecer, menurut dia, mungkin menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap perlambatan pasar kerja adalah hal yang berlebihan. “Kami belum melihat terlalu banyak detail yang mengkhawatirkan mengenai konsumen AS hingga saat ini, jadi penting untuk mempertimbangkan totalitas data pengeluaran daripada panik atas laporan pekerjaan yang tidak terlalu signifikan,” urainya.
Baca Juga
Pertumbuhan Lapangan Kerja AS Melambat, Pengangguran Membengkak. Tanda resesi?

