Meta Siapkan Skema Patungan dan Jual Aset Rp 33 Triliun Demi Infrastruktur AI
Poin Penting
|
SAN FRANCISCO, investortrust.id - Meta terus ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dengan menggandeng mitra eksternal demi meringankan beban biaya. Perusahaan induk Facebook dan Instagram ini mengungkap rencana menjual aset pusat data senilai US$ 2,04 miliar (sekitar Rp 33 triliun) sebagai bagian dari strategi pembiayaan bersama.
Dalam dokumen keuangan kuartal kedua yang dirilis Jumat (1/8/2025), Meta menyatakan telah menyetujui rencana pada Juni lalu untuk melepas sejumlah aset berupa lahan dan proyek pusat data yang sedang dibangun. Aset tersebut akan dikontribusikan kepada pihak ketiga dalam waktu 12 bulan ke depan untuk dikembangkan bersama.
Baca Juga
Meta Sempat Bidik Runway sebelum Akhirnya Investasi di Scale AI
Langkah ini mencerminkan pergeseran strategi besar di antara raksasa teknologi yang sebelumnya dikenal membiayai semua pertumbuhan secara internal. Kini, lonjakan biaya pembangunan pusat data demi mendukung generative AI mendorong mereka membuka pintu bagi pendanaan eksternal.
“Kami sedang menjajaki kerja sama dengan mitra finansial untuk ikut mengembangkan pusat data,” ujar CFO Meta, Susan Li dikutip dari Reuters, Sabtu (2/8/2025).
Meski sebagian besar belanja modal tetap didanai internal, proyek-proyek tertentu dinilai layak mendapat pembiayaan eksternal. Perusahaan belum mengumumkan kesepakatan final, namun penyataan resmi dalam dokumen keuangan menunjukkan bahwa proses sudah memasuki tahap konkret.
Baca Juga
Meski IHSG Naik Tipis Pekan Ini, 8 Saham Dipimpin BUVA justru Terbang lebih dari 50%
CEO Meta, Mark Zuckerberg, sebelumnya menegaskan bahwa perusahaan berencana membangun pusat data AI berskala “supercluster” untuk mendorong kecerdasan super. "Satu pusat data saja sudah bisa menempati area sebesar sebagian wilayah Manhattan,” ujar Zuckerberg.
Perusahaan juga menaikkan proyeksi belanja modal tahunannya, dari US$ 64 miliar menjadi kisaran US$ 66-72 miliar. Sebagian besar digunakan untuk membangun dan memperluas infrastruktur AI jangka panjang yang kini menjadi prioritas utama Meta.
Meski biaya terus naik, Meta mencatat peningkatan tajam dalam pendapatan iklan berkat teknologi AI yang meningkatkan efisiensi penargetan dan distribusi konten. Peningkatan ini dianggap mampu menyeimbangkan pengeluaran yang melonjak akibat proyek AI besar-besaran.

