Bursa China dan Hong Kong Melejit Didorong Saham Konstruksi dan Energi
Poin Penting
|
SHANGHAI, investortrust.id - Pasar saham China dan Hong Kong melejit pada perdagangan Selasa (22/7/2025), seiring lonjakan tajam saham-saham konstruksi dan energi menyusul dimulainya pembangunan bendungan tenaga air terbesar di dunia yang berlokasi di Tibet. Proyek raksasa senilai US$170 miliar tersebut dinilai sebagai simbol keyakinan Beijing dalam menstimulasi ekonomi lewat investasi infrastruktur skala masif.
Baca Juga
Bursa Australia Cetak Rekor Tertinggi Seiring Penguatan Pasar Asia-Pasifik
Indeks CSI300 - barometer saham unggulan di bursa Shanghai dan Shenzhen - naik 0,8% ke posisi tertingginya dalam delapan bulan terakhir, sementara Indeks Shanghai Composite menguat 0,6%. Di Hong Kong, indeks Hang Seng bertambah 0,5% dan menembus level psikologis 25.000, tertinggi sejak November 2021.
Anhui Conch Cement dan Power Construction of China memimpin reli dengan kenaikan masing-masing 10%, batas maksimum harian di bursa Shanghai. Sektor energi pun mengikuti, dengan indeks batu bara CSI melonjak hampir 7%, dan saham produsen minuman keras premium naik lebih dari 3%, menunjukkan selera risiko investor meningkat.
Menurut Ting Lu, Kepala Ekonom China di Nomura, pasar tengah dalam fase “bullish irasional” di mana perhatian terhadap kondisi ekonomi riil mereda, digantikan oleh kepercayaan pada kekuatan kebijakan pemerintah pusat. “Investor saat ini memusatkan perhatian pada kekuatan narasi jangka panjang—yaitu kemampuan Beijing menangani gejolak domestik,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Dukungan tersebut datang dalam berbagai bentuk—dari komitmen pendanaan jangka panjang untuk pasar saham, pemulihan sentimen sektor manufaktur, hingga sinyal membaiknya hubungan luar negeri. Terbaru, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa dialog bilateral antara Washington dan Beijing akan segera digelar, dengan fokus pada isu-isu energi strategis seperti ekspor minyak Iran dan Rusia ke Tiongkok.
Meski demikian, Nomura memperingatkan bahwa jika reli saham mulai kehilangan tenaga, investor akan kembali mencermati fundamental ekonomi riil yang masih dibayangi risiko perlambatan di paruh kedua tahun ini. Beijing akan dihadapkan pada kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara stimulus fiskal dan stabilitas fiskal jangka panjang.
Baca Juga
Prospek Kesepakatan Suram, Uni Eropa Siapkan Langkah Agresif Balas Tarif Trump
Pasar saat ini mempertaruhkan harapan pada proyek-proyek besar untuk menopang pertumbuhan, sementara volatilitas global akibat isu tarif dan ketegangan moneter AS masih tetap menjadi faktor eksternal yang harus diwaspadai.

