Trump 'Pede' Dapat Restu China Perpanjang Lagi Batas Waktu Divestasi TikTok
WASHINGTON, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengisyaratkan akan memperpanjang tenggat waktu bagi ByteDance, induk perusahaan TikTok yang berbasis di China, untuk mendivestasikan aset TikTok di Negeri Paman Sam. Tenggat waktu sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 19 Juni 2025.
Saat berbicara kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Selasa (17/6/2025) waktu setempat, Trump menunjukkan keyakinannya bahwa proses tersebut akan berjalan lancar. “Mungkin, ya,” jawabnya saat ditanya soal kemungkinan perpanjangan.
“Mungkin perlu persetujuan dari China, tapi saya kira akan mendapatkannya. Saya pikir Presiden Xi pada akhirnya akan menyetujuinya," jelas Trump sebagaimana dilansir dari Reuters.
Isyarat perpanjangan ini bukan pertama kali diutarakan. Pada Mei lalu, Trump sempat menyatakan akan mempertimbangkan penundaan karena TikTok dinilainya membantu menjangkau pemilih muda saat kampanye Pilpres 2024. Aplikasi video pendek itu memainkan peran besar dalam komunikasi digital antar generasi muda di AS.
TikTok selama ini berada di bawah sorotan otoritas AS karena dikhawatirkan dapat membahayakan keamanan data pengguna dan digunakan sebagai alat pengaruh politik oleh pemerintah China. Meski begitu, basis pengguna TikTok di AS sangat besar, terutama dari kalangan Gen Z.
Baca Juga
Perpanjangan Penangguhan TikTok oleh Trump Jadi Simbol Politik Lawan China, Mengapa?
Menurut laporan Pew Research Center, sekitar 62% remaja Amerika menggunakan TikTok, dengan hampir 20% dari mereka mengakses aplikasi ini lebih dari 10 kali per hari. Dalam konteks pemilu dan opini publik, kekuatan TikTok dianggap krusial termasuk dalam kemenangan Trump.
Pada April 2025, Kongres AS meloloskan undang-undang yang mewajibkan ByteDance untuk menjual aset TikTok di Amerika dalam waktu 180 hari atau menghadapi pemblokiran permanen. Namun hingga pertengahan Juni, proses penjualan belum menemui titik terang.
Beberapa perusahaan teknologi Amerika seperti Microsoft dan Oracle sempat dikaitkan dengan potensi akuisisi operasional TikTok di AS. Meski demikian, hambatan regulasi dari pemerintah China terkait ekspor teknologi, khususnya algoritma TikTok, menjadi tantangan utama dalam proses tersebut.
Trump, yang kembali menduduki kursi presiden sejak Januari 2025, kini menunjukkan pendekatan yang lebih pragmatis dibandingkan masa kepemimpinannya sebelumnya. Ia tidak hanya mempertimbangkan faktor keamanan, tetapi juga dimensi politik dan komunikasi langsung dengan pemilih muda.
“Saya pikir ini akan selesai dengan baik,” ujarnya optimistis. Ia juga menambahkan bahwa Presiden Xi Jinping kemungkinan akan memahami pentingnya kerja sama dalam hal ini.
ByteDance hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan terbaru Trump. Namun publik dan pelaku pasar global tengah menanti kepastian apakah perpanjangan akan benar-benar diberikan, dan bagaimana kelanjutan nasib TikTok di AS.

