Ekonom Bank Mandiri Sebut Tingginya Yield US Treasury Imbas Risiko Kebijakan Trump
JAKARTA, Investortrust.id – Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Andry Asmoro, menilai bahwa peningkatan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) belakangan ini tak lepas dari kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan perdagangan yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump.
Menurut Andry, sentimen pasar terhadap kebijakan Trump, khususnya yang bersifat ekspansif dan proteksionis menimbulkan ekspektasi pelebaran defisit fiskal AS. Hal ini menjadi salah satu faktor pendorong naiknya yield US Treasury, seiring dengan meningkatnya risiko fiskal jangka menengah hingga panjang.
"Kalau kita lihat, ini kan faktor fundamental. Kalau defisit anggaran tidak dikelola dengan baik, sementara Trump kembali banyak memberikan stimulus, pasar akan memproyeksikan pelebaran defisit yang cukup besar," ujar Andry di kantor Investortrust di The Convergence Indonesia, Jakarta, Kamis (12/6/2025).
Peningkatan yield sejatinya mencerminkan premi risiko fiskal yang dikehendaki investor. Pasar mengantisipasi bahwa bila kebijakan Trump kembali dominan, termasuk tarif impor tinggi dan belanja fiskal agresif.
Baca Juga
Yield USTreasury Turun, Investor Tunggu Arah Negosiasi AS-China
Andry memprediksi bahwa tren yield tinggi masih akan berlanjut dalam waktu yang cukup lama, terutama jika tidak ada kepastian soal disiplin fiskal AS ke depan.
"Berdasarkan konsensus terbaru, tidak menutup kemungkinan yield Treasury bisa menyentuh level 5%," ujarnya.
Ia juga menyinggung yield jangka panjang seperti obligasi US Treasury 30 tahun yang "sempat mendekati bahkan mungkin sempat menembus 5,25%", sebagai bukti bahwa pasar menuntut kompensasi yang lebih tinggi atas risiko fiskal jangka panjang dari pemerintah AS.
Meskipun demikian, Andry menyatakan bahwa tekanan terhadap US Treasury bisa mereda bila pemerintah AS berhasil mengendalikan defisit anggaran dan mengurangi kekhawatiran pasar.
Tentu saja (yield) bisa balik (turun) ketika sentimen sudah berkurang. Sudah ada ‘bacaan’ bahwa defisit anggarannya Amerika Serikat kemudian bisa lebih turun," kata Andry.
Sebagai informasi, yield obligasi US Treasury 10 tahun sempat turun hampir 5 basis poin menjadi 4,43% setelah rilis data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan. Data ini memberikan kelegaan sementara bagi investor dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin akan segera memangkas suku bunga, meskipun tekanan struktural dari risiko fiskal masih membayangi.
Bagi para investor skala besar dan sejumlah negara bisa memanfaatkan tingginya yield US Treasury, dengan menyesuaikan portofolio dan membeli US Treasury sebagai bentuk diversifikasi aset yang aman dan berimbal hasil tinggi. Langkah ini setidaknya juga bisa meningkatkan cadangan nilai dan mengurangi risiko portofolio saat pasar lokal volatile.

