Dampak Tarif Belum Terlihat, Inflasi AS Mei Hanya Naik 0.1%
WASHINGTON, invstortrust.id - Harga konsumen Amerika Serikat naik tipis pada bulan Mei, di bawah proyeksi analis, menunjukkan bahwa kebijakan tarif Presiden Donald Trump sejauh ini belum memberikan tekanan inflasi yang signifikan.
Baca Juga
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) yang dirilis Rabu (11/6/2025) menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) meningkat sebesar 0,1% secara bulanan, sehingga tingkat inflasi tahunan berada di angka 2,4%. Konsensus ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan kenaikan sebesar 0,2% secara bulanan, dengan inflasi tahunan tetap di level 2,4%.
Tanpa memperhitungkan harga pangan dan energi yang bergejolak, inflasi inti (core CPI) juga naik 0,1% bulanan dan 2,8% tahunan. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi masing-masing sebesar 0,3% dan 2,9%. Pejabat Federal Reserve memandang core CPI sebagai indikator tren jangka panjang yang lebih dapat diandalkan, dan sejumlah di antaranya baru-baru ini menyatakan kekhawatiran terhadap potensi dampak tarif terhadap inflasi.
Penurunan harga energi menjadi penyeimbang utama dalam laporan ini. Harga energi turun 1% dibanding bulan sebelumnya, sementara harga bensin anjlok 2,6% dan mencatatkan penurunan tahunan sebesar 12%. Harga kendaraan baru dan bekas masing-masing turun 0,3% dan 0,5%. Sementara itu, harga pangan dan hunian masing-masing naik 0,3%. BLS menyebut kenaikan harga hunian sebagai “faktor utama” dalam kenaikan CPI yang relatif moderat.
Meskipun harga hunian naik, laju tahunan sebesar 3,9% merupakan yang terendah sejak akhir 2021. Sementara itu, harga pakaian justru turun 0,4%. Harga telur turun 2,7% dari bulan sebelumnya, meski masih lebih tinggi 41,5% secara tahunan.
Dengan inflasi yang relatif rendah, rata-rata upah riil per jam naik 0,3% selama bulan Mei dan 1,4% dibanding tahun lalu.
“Data inflasi ini yang lebih rendah dari perkiraan memang memberikan ketenangan, namun masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tekanan harga akibat tarif tidak akan terjadi,” ujar Seema Shah, Kepala Strategi Global di Principal Asset Management, seperti dikutip CNBC.
Wakil Presiden JD Vance turut merespons melalui unggahan di X, dengan mendesak Federal Reserve untuk segera memangkas suku bunga. “Presiden sudah mengatakan ini sejak lama, dan sekarang semakin jelas: penolakan Fed untuk menurunkan suku bunga adalah bentuk kelalaian kebijakan moneter,” tulisnya.
Baca Juga
Trump Kembali Kritik Powell, Desak The Fed Segera Pangkas Suku Bunga
Tarif dan Ketegangan Perdagangan
Laporan BLS ini dirilis di tengah upaya berkelanjutan pemerintah Trump untuk merampungkan kesepakatan dagang bilateral. Dalam pengumuman pada 2 April lalu yang mengguncang pasar, Trump memberlakukan tarif universal 10% terhadap seluruh impor ke AS, serta serangkaian tarif timbal balik terhadap negara-negara yang dituduh melakukan praktik dagang tidak adil.
Pejabat Gedung Putih telah bertemu dengan perwakilan China guna meredakan perang dagang yang semakin intens. Kedua negara hampir mencapai kesepakatan terkait pasokan logam tanah jarang yang krusial bagi baterai kendaraan listrik dan produk teknologi strategis lainnya.
Negara-negara lain yang terkena tarif timbal balik diberi tenggat hingga awal Juli untuk mencapai kesepakatan, sesuai pengumuman lanjutan Trump sepekan setelah kebijakan tarif diumumkan.
Gedung Putih bersikukuh bahwa kebijakan tarif tidak akan menyebabkan inflasi tak terkendali, dengan asumsi bahwa produsen luar negeri akan menyerap sebagian besar beban biaya. Namun banyak ekonom memperingatkan bahwa cakupan tarif yang luas bisa meningkatkan harga secara lebih nyata, terutama saat persediaan perusahaan mulai menipis pada musim panas.
“Angka inflasi Mei yang tenang menunjukkan bahwa tarif belum berdampak besar karena perusahaan masih mengandalkan stok lama atau menaikkan harga secara bertahap akibat permintaan yang belum pasti,” ujar Alexandra Wilson-Elizondo, CIO Global untuk Solusi Multi-Aset di Goldman Sachs Asset Management. “Jika pun harga barang naik, harga jasa diperkirakan akan tetap stabil, yang berarti tekanan inflasi hanya bersifat sementara.”
Baca Juga
Risalah FOMC: Pejabat The Fed Waspadai Dampak ‘Tarik Ulur’ Tarif Trump
Harga pasar mengindikasikan bahwa The Fed kemungkinan tidak akan memangkas suku bunga lagi sebelum September, sambil mengevaluasi dampak lanjutan dari kebijakan tarif. Trump terus mendesak pemangkasan suku bunga di tengah data inflasi yang melandai dan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja.

