Pasar Saham Australia Melemah Setelah Kemenangan Albanese, Mengapa?
SYDNEY, investortrust.id – Indeks saham Australia dibuka melemah pada awal pekan ini, meskipun hasil pemilu menunjukkan kembalinya Perdana Menteri Anthony Albanese untuk masa jabatan kedua. Kemenangan ini menjadikannya pemimpin pertama dalam dua dekade terakhir yang berhasil mempertahankan kursi kepemimpinan secara beruntun, menandai harapan publik terhadap kesinambungan kebijakan di tengah tekanan makroekonomi global.
Baca Juga
Efek Trump Tumbangkan Oposisi, Albanese Menang Telak dalam Pemilu Australia
Dikutip dari CNBC, indeks acuan S&P/ASX 200 turun 0,29% pada Senin (5/5/2025) pagi, mundur dari penguatan sesi sebelumnya yang membawa indeks ke posisi tertinggi sejak akhir Februari. Dolar Australia pun sedikit melemah terhadap greenback, turun 0,06% ke level 0,6439.
Sebagian besar pasar saham Asia tidak beroperasi hari ini karena libur nasional, termasuk Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan Tiongkok. Aktivitas perdagangan regional pun tampak sepi, dengan fokus investor beralih ke perkembangan politik dan kebijakan ekonomi pasca-pemilu di Australia.
Kemenangan Albanese dipandang sebagai penegasan terhadap stabilitas kebijakan fiskal dan energi bersih yang telah menjadi agenda utama pemerintahannya. Namun, investor masih mencermati tantangan eksternal seperti perlambatan global, tarif perdagangan, dan tekanan dari sektor komoditas.
Pasar saham AS pekan lalu ditutup dalam zona hijau. Pada Jumat lalu, indeks S&P 500 naik 1,47% ke 5.686,67, mencatat reli sembilan hari berturut-turut - pencapaian terpanjang sejak 2004 - dan sepenuhnya memulihkan tekanan akibat pengumuman tarif oleh Presiden Donald Trump awal April.
Indeks Dow Jones juga melonjak 564 poin (1,39%) ke 41.317,43, dan Nasdaq Composite menguat 1,51% ke 17.977,73.
Baca Juga
Dengan minimnya katalis di kawasan Asia hari ini, pelaku pasar menantikan sinyal lanjutan dari The Fed dan rilis data ekonomi utama global yang dapat memberikan arah lebih jelas pada sentimen pasar minggu ini.

