Rusia Gempur Ukraina, Harga Minyak Bergerak Naik
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak naik pada Kamis (24/4/2025). Investor mempertimbangkan pelemahan dolar AS, potensi peningkatan produksi OPEC+, berita ekonomi yang beragam, sinyal tarif AS yang saling bertentangan, serta perkembangan dari perang Rusia-Ukraina.
Baca Juga
OPEC+ Pertimbangkan Percepatan Produksi, Harga Minyak Anjlok Lebih dari 2%
Minyak mentah Brent naik 43 sen, atau 0,7%, menjadi $66,55 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 52 sen, atau 0,8%, menjadi $62,79 per barel.
Di AS, jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran naik tipis minggu lalu, menunjukkan pasar tenaga kerja yang tetap tangguh meskipun ada gejolak ekonomi akibat tarif atas barang impor.
Perusahaan-perusahaan menaikkan harga dan memangkas panduan keuangan karena biaya yang lebih tinggi akibat perang dagang Presiden AS Donald Trump, yang juga telah mengguncang rantai pasok global.
Pejabat Federal Reserve AS menyatakan dalam wawancara televisi bahwa mereka tidak melihat urgensi untuk mengubah kebijakan moneter sambil menunggu lebih banyak informasi guna menentukan bagaimana tarif dagang mempengaruhi ekonomi.
"Pasar masih mencoba memahami data, karena statistik ketenagakerjaan menunjukkan pasar tenaga kerja yang tangguh sementara The Fed meredam optimisme dengan komentar bahwa tingkat pengangguran mungkin terdampak oleh tarif," tulis analis di perusahaan konsultan energi Gelber and Associates dalam sebuah catatan, seperti dikutip Reuters.
Dolar AS melemah secara luas pada hari Kamis, seiring meningkatnya pesimisme investor atas kurangnya kemajuan nyata dalam meredakan perang dagang AS-China.
Melemahnya mata uang AS membuat komoditas yang dihargai dalam dolar, seperti minyak, menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Ketidakpastian Pasokan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa ia siap melakukan perjalanan ke Eropa untuk pembicaraan mengenai program nuklir Teheran. Prancis mengindikasikan bahwa kekuatan Eropa siap berdialog jika Teheran menunjukkan keterlibatan yang serius.
Keberhasilan pembicaraan dengan Eropa dan AS kemungkinan akan menghasilkan pencabutan sanksi atas ekspor minyak Iran. Iran adalah produsen minyak terbesar ketiga di OPEC setelah Arab Saudi dan Irak.
Trump mengkritik Presiden Rusia Vladimir Putin setelah Rusia menggempur Kyiv dengan misil dan drone. Ia meminta agar Putin berhenti melakukan penyerangan.
Pada Rabu, Trump mengatakan bahwa pemimpin Ukraina menghambat pembicaraan damai untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina, yang dapat memungkinkan lebih banyak minyak Rusia mengalir ke pasar global. Rusia adalah salah satu produsen minyak terbesar dunia bersama AS dan Arab Saudi.
Baca Juga
Namun, banyak negara Eropa sedang berupaya menghentikan impor minyak Rusia karena perang. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan bahwa komisi akan menyampaikan peta jalan dalam dua minggu ke depan mengenai janji Uni Eropa untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil Rusia pada 2027.

