Politisi LDP Tatsuo Fukuda: Pekerja Informal di Jepang Naik dari 20% ke 40%, Layak Jadi Pelajaran bagi Indonesia
TOKYO, Investortrust.id — Dalam 25 tahun terakhir, 1990-2025, pekerja informal di Jepang meningkat dari 20% ke 40% seiring dengan proses deindustrialiasi. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia selama tahun 2000-2022 ikut mempercepat merosotnya pangsa industri terhadap PDB dan kontribusi industri terhadap penyerapan tenaga kerja. Membesarnya pekerja sektor informal di Jepang layak menjadi pelajaran bagi Indonesia.
“Kebijakan tarif resiprokal Presiden Donald Trump memukul industri Jepang dan kondisi akan memperbesar pekerja sektor informal karena kemampuan sektor formal menyerap tenaga kerja melemah,” kata Tatsuo Fukuda, anggota DPR Jepang dari Liberal Democratic Party (LDP) saat menerima Rachmat Gobel, anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem dan para pemimpin media massa Indonesia di kantor LDP, Jumat (18/04/2025). Kebijakan Trump menimbulkan ketidakpastian dan dalam situasi seperti itu, para pengusaha dan investor cenderung memilih untuk memegang “cash”.
Dengan tarif baru Trump, kata putra mantan Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda dan cucu Takeo Fukuda itu, perusahaan Jepang akan “dipaksa” membangun pabrik di AS. Yang sudah pasti adalah Honda. Perusahaan ini memutuskan untuk berproduksi 90% di AS. “Dengan demikian, Honda menjadi perusahaan AS,” jelas Tatsuo.
Kebijakan Trump juga terjadi pada saat Jepang sedang dilanda inflasi. Dikhawatirkan, tarif baru yang dikenakan Trump mendongkrak inflasi yang sudah terjadi sejak empat tahun lalu. Sebelumnya, selama 30 tahun, Jepang mengalami deflasi. Harga barang tidak pernah naik, sehingga pekerja sektor informal bisa hidup dengan sejahtera. Inflasi melonjak sejak masa pandemi dan diperparah oleh Perang Rusia vs Ukraina.
Inflasi di Jepang pada Maret 2025, year on year (yoy) tercatat sebesar 3,2%. Selama tiga tahun berturut-turut inflasi inti berada di atas target BOJ sebesar 2%. Merespons inflasi, BOJ menaikkan suku bunga menjadi 0,5% pada Januari 2025, level tertinggi dalam 17 tahun.
Baca Juga
Anggota Parlemen Jepang dari LDP Sarankan Indonesia Terus Perkuat UMKM
Laju pertumbuhan ekonomi Jepang sedang menurun. Bank Sentral Jepang (BOJ) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun 2025 Negeri Sakura itu lebih rendah dari prediksi awal, 1,1%. Kontribusi ekspor terhadap PDB Jepang sekitar 22%, sehingga penurunan ekspor ke AS akan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Jepang sangat memperhatikan kemajuan industri karena sektor ini berperan besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi selain menyerap tenaga kerja. Pada tahun 2024, kontribusi industri terhadap PDB sekitar 28%. Bukan hanya perusahaan skala korporasi yang bergerak di bidang industri, melainkan juga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selama tahun 1990-2025, kata Tatsuo, ada tambahan 20 juta tenaga kerja di tengah populasi yang menurun. Jepang sudah memasuki aging society. Penduduk yang berusia di atas 64 tahun tercatat memiliki porsi sekitar lebih dari 45% dari total populasi. Sebaliknya, penduduk usia produktif meningkat. Jumlah penduduk Jepang juga menurun dari 128,1 juta tahun 2010 ke 123 juta tahun 2024 dan diperkirakan akan terus menurun.
Kondisi demografi seperti ini, demikian kata cucu Takeo Fukuda itu, mendorong perusahaan Jepang mempekerjakan penduduk usia di atas 64 tahun. Dengan keahlian yang dimiliki, mereka bekerja paruh waktu dan masuk kategori pekerja informal.
“Dengan struktur demografi dan kondisi ketenagakerjaan seperti ini, UMKM dan pekerja sektor informal akan kesulitan, harga bahan kebutuhan pokok naik,” jelas Tatsuo. Sebagai wakil rakyat, pihaknya tidak hanya melihat angka PDB, melainkan tingkat kesejahteraan rakyat.
Pada saat inflasi naik, kelas menengah atas tidak terlalu masalah. Harga mobil mewah bisa saja naik hingga 25%. Kelas menengah atas yang memiliki daya beli tinggi tetap mampu membeli. Tapi, pekerja informal dan UMKM akan sangat terpukul. “Itu yang kami jaga dengan berbagai upaya, antara lain, membangun sektor industri agar rakyat tetap bekerja dan memiliki pendapatan,” ujarnya.
“Kondisi ekonomi yang memburuk ini berkontribusi terhadap penurunan dukungan rakyat terhadap pemerintahan yang dipimpin LDP,” kata Tatsuo.
Baca Juga
Gobel: Idealnya Indonesia Terus Menjaga dengan Baik Hubungan dan Kemitraan dengan Jepang
Walau tetap menjadi partai terbesar di parlemen, LDP dan mitra koalisinya, Komeito, kehilangan dominasinya di Majelis Rendah pada pemilu Oktober 2024. Koalisi ini meraih 215 dari 465 kursi, turun dari 279 kursi pada periode sebelumnya, jauh di bawah ambang mayoritas 233 kursi.
Rakyat memiliki pandangan berbeda. “Kabinet Shinzo Abe masuk tahun ke-13 pemerintahan yang dipimpin LDP. Ada kebosanan rakyat. Mereka mau wajah baru dari partai lain. LDP kurang menarik bagi rakyat. Tiga belas tahun itu terlalu lama, mereka ingin yang baru,” papar Tatsuo.
Tarif baru yang dikenakan Presiden Trump mendorong negara-negara Asia menemukan kembali “Asian values” yang memungkinkan mereka menjalin kerja sama lebih erat sambil tetap memperkuat daya saing masing-masing negara.
Sebelum 9 April 2025, saat Trump mengumumkan tarif baru 24% terhadap produk Jepang, tarif lama berkisar 0% hingga 5%. Tarif mobil penumpang dari Jepang adalah 2,5%, sementara suku cadang mobil dikenakan tarif sekitar 2,5% hingga 5%.
Tarif baru Trump, meski ada penundaan, tetap menimbulkan ketidakpastian. Tidak ada satu pihak pun yang bisa memprediksi dengan tepat kebijakan orang nomor satu AS itu. “Menghadapi pemimpin seperti itu, kita hanya bisa wait and see,” papar Tatsuo.

