Bos Nvidia Sukses Lobi Trump, Chip AI kembali bisa Dipasarkan ke China
FLORIDA, investortrust.id - CEO Nvidia, Jensen Huang, berhasil melobi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk melonggarkan rencana pembatasan ekspor chip kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) H20 ke China. Sebagai gantinya, Nvidia menjanjikan investasi jumbo untuk infrastruktur AI di AS.
Dilansir dari NPR, Kamis (10/4/2025), Trump sebelumnya berencana untuk melarang ekspor chip H20 ke China. Meski bukan menjadi chip paling canggih, namun chip tersebut laris manis dibeli oleh perusahaan teknologi dari Negeri Tirai Bambu.
Baca Juga
Tak cuma, itu sejumlah perusahaan teknologi seperti DeepSeek, Alibaba, hingga Tencent mampu membuat AI canggih bermodalkan chip H20. Hal inilah yang kemudian membuat pihak Washington meradang, dan segera melarang ekspor chip Nvidia tersebut ke China.
Jelang aturan yang akan berlaku pada pekan ini, Huang ternyata mampu melobi Trump. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa konglomerat itu meyakinkan Trump bahwa Nvidia akan berkomitmen memperkuat kemampuan AI dalam negeri melalui pembangunan pusat data di AS.
Pada akhirnya, Nvidia tetap diizinkan mengekspor chip H20 ke pasar China. Hal ini langsung disambut positif oleh pasar, ditandai dengan melonjaknya harga saham Nvidia tak lama setelah pengumuman resmi keluar.
Baca Juga
Laba Bersih Tower Bersama (TBIG) 2024 Tergelincir, Harga Saham Ditarget Jadi Segini
Meski begitu, keputusan ini tetap memicu reaksi beragam. Beberapa anggota parlemen AS menyayangkan langkah pemerintah, dengan alasan bahwa hal ini justru bisa melemahkan upaya menekan akses China terhadap teknologi AI tingkat lanjut.
Di sisi lain, sebelumnya ByteDance, Alibaba, dan Tencent sudah lebih dulu memesan chip H20 dalam jumlah besar. Keputusan ini memberi mereka kepastian untuk tetap melanjutkan pengembangan teknologi AI tanpa gangguan tarif impor.
Para analis menyebut jika cara Huang merupakan strategi diplomasi bisnis yang cerdik, mengingat besarnya ketergantungan Nvidia terhadap pasar China. Di sisi lain, manuver ini juga menunjukkan bagaimana urusan geopolitik dan bisnis teknologi tidak bisa dipisahkan di tengah gejolak perang datang antara AS-China. (C-13)

