Perusahaan China Borong Chip Nvidia Senilai US$ 16 Miliar
BEIJING, investortrust.id - Sejumlah perusahaan teknologi besar China, seperti ByteDance, Alibaba Group, dan Tencent Holdings, dikabarkan telah memesan chip AI H20 dari Nvidia mencapai US$ 16 miliar dalam tiga bulan pertama tahun ini. Laporan dari The Information, Kamis (3/4/2025), mengungkapkan lonjakan permintaan ini dipicu oleh kebutuhan tinggi terhadap pemrosesan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di China.
Pada Februari lalu, Reuters melaporkan bahwa pesanan untuk chip H20 melonjak drastis, didorong oleh startup AI China, DeepSeek, yang menawarkan model AI dengan biaya lebih rendah. H20 menjadi chip AI paling canggih yang masih bisa dijual di China setelah pembatasan ekspor terbaru dari Amerika Serikat diberlakukan pada Oktober 2023.
Nvidia menolak memberikan komentar terkait lonjakan pesanan ini. Meski demikian, laporan sebelumnya menunjukkan bahwa permintaan chip AI di China terus meningkat seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan di negara tersebut.
Salah satu produsen server terbesar di China, H3C, memperingatkan kemungkinan kekurangan pasokan chip H20 dalam waktu dekat. Jika terjadi, hal ini bisa menghambat ambisi perusahaan-perusahaan China dalam mengembangkan AI, terutama di tengah ekspansi besar-besaran mereka dalam teknologi ini.
Baca Juga
Kurangi Ketergantungan pada Nvidia, Meta Uji Coba Chip AI Buatan Sendiri
Selain H3C, beberapa mitra utama Nvidia di China, seperti Inspur, Lenovo, dan xFusion juga berperan dalam distribusi chip AI ini. Mereka berupaya menjaga pasokan tetap stabil meskipun ada ancaman gangguan rantai pasokan akibat kebijakan dagang Amerika Serikat.
Sejak 2022, Gedung Putih telah melarang ekspor chip AI paling canggih dari Nvidia ke China, dengan alasan keamanan nasional dan kekhawatiran bahwa teknologi ini dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan militer China. Pembatasan ini membuat Nvidia harus menyesuaikan strategi penjualannya dengan menawarkan chip yang masih sesuai dengan regulasi.
Selain pembatasan ekspor, Presiden AS Donald Trump menyatakan niatnya untuk memberlakukan tarif sekitar 25% pada impor semikonduktor dan produk terkait. Kebijakan ini semakin memperketat akses China terhadap teknologi canggih dari Amerika Serikat.
CEO Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa dalam jangka pendek, perusahaan tidak terlalu terdampak oleh kebijakan ini. Namun, ia mengindikasikan bahwa dalam jangka panjang, Nvidia akan mempertimbangkan untuk memindahkan sebagian produksinya ke Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan pada pasar China.
China tetap menjadi pasar utama bagi Nvidia, dengan perusahaan mencatat pendapatan tahunan sebesar US$ 17,11 miliar dari kawasan tersebut, termasuk Hong Kong, dalam tahun fiskal 2025. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun ada pembatasan, permintaan chip AI di China tetap tinggi.
Lonjakan pesanan chip H20 ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi China berambisi untuk bersaing dalam indistri AI global. Meski menghadapi tantangan regulasi dari AS, mereka terus berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur AI untuk mempertahankan daya saing mereka di pasar internasional. (C-13)

