Perang Tarif Picu Aksi Jual di Wall Street, Dow Merosot Lebih dari 300 Poin
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Wall Street kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa waktu setempat atau Rabu (9/4/2025) pagi WIB. Aksi jual besar-besaran yang dipicu oleh kekhawatiran atas tarif perdagangan kembali berlanjut, menghapus reli pemulihan yang sempat terjadi pada sesi awal.
Baca Juga
Wall Street Masih Terguncang Tarif Trump, Dow Jones Anjlok Lebih dari 300 Poin
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 320,01 poin atau 0,84% ke posisi 37.645,59, memperpanjang penurunan dalam empat sesi terakhir menjadi lebih dari 4.500 poin. Saham Apple menjadi penekan utama indeks, setelah muncul kekhawatiran bahwa biaya produksi perusahaan akan meningkat tajam akibat tarif baru terhadap China.
Sempat menyentuh kenaikan hingga 3,9% di awal sesi, Dow akhirnya berbalik arah setelah sentimen pasar kembali dibayangi ketidakpastian perdagangan.
Sementara itu, S&P 500 juga tertekan, turun 1,57% ke 4.982,77, dan untuk pertama kalinya sejak April 2024 kembali ditutup di bawah level psikologis 5.000. Indeks ini nyaris memasuki wilayah pasar bearish, dengan koreksi mendekati 19% dari rekor tertingginya pada Februari lalu. Selama empat hari terakhir, S&P 500 tercatat turun lebih dari 12%.
Tekanan lebih dalam dialami oleh Nasdaq Composite, yang ditutup melemah 2,15% ke level 15.267,91, meskipun sempat menguat hingga 4,5% pada awal perdagangan. Nasdaq kini telah terkoreksi lebih dari 13% dalam empat hari berturut-turut.
Pada pembukaan perdagangan, saham-saham sempat bergerak naik karena pelaku pasar melihat valuasi yang terlalu rendah (oversold) dan berharap adanya langkah negosiasi tarif yang lebih lunak dari pemerintah AS terhadap mitra dagang utama.
Harapan tersebut sempat diperkuat oleh pernyataan Presiden Donald Trump di Truth Social, yang menyebut telah melakukan “panggilan yang luar biasa" dengan presiden sementara Korea Selatan. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga mengungkapkan bahwa sekitar 70 negara telah mendekati pemerintah AS untuk membuka pembicaraan tarif.
Namun, sentimen positif itu dengan cepat memudar. Saham Apple, yang sebelumnya naik lebih dari 4%, berbalik melemah hampir 5% di akhir sesi. Secara kumulatif, saham Apple telah kehilangan sekitar 23% dalam empat hari terakhir.
Baca Juga
Gedung Putih mengonfirmasi bahwa mulai tengah malam ini, tarif kumulatif sebesar 104% akan diberlakukan terhadap barang-barang impor dari China. Tarif ini melengkapi tarif dasar 10% yang telah diterapkan sejak Sabtu lalu.
Menurut Robert Ruggirello, Chief Investment Officer di Brave Eagle Wealth Management, pasar membutuhkan kepastian kebijakan untuk dapat pulih secara berkelanjutan.
“Akan diperlukan kekuatan yang bertahan lama, sesuatu yang memungkinkan perusahaan membuat keputusan alokasi modal jangka panjang. Mereka harus memiliki keyakinan terhadap kebijakan yang konsisten,” beber Ruggirello, seperti dikutip CNBC.
Selasa menjadi sesi keempat berturut-turut terjadinya volatilitas tinggi yang menyelimuti pasar sejak diumumkannya kebijakan tarif terbaru dari Trump, menandai periode penuh tekanan bagi para investor global.

