Allianz: Tarif Trump Justru Berisiko Dorong Perekonomian Amerika Serikat ke Arah Resesi
WASHINGTON. Investortrust.id - Tarif timbal balik (reciprocal tariffs) yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump selain memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian global, tapi juga berisiko mendorong perekonomian Amerika Serikat menuju resesi.
Disampaikan Penasihat Ekonomi Utama Allianz, Mohamed El-Erian, Jumat (4/4/2025) kepada CNBC di sela Forum Ambrosetti di Cernobbio, Italia, kebijakan tarif impor dalam skala besar yang diberlakukan Trump dinilai berisiko mendorong perekonomian Amerika Serikat menuju resesi. El-Erian menyampaikan bahwa serangkaian tarif timbal balik tersebut berpotensi memicu dampak luas terhadap stabilitas ekonomi global.
“Telah terjadi penyesuaian besar terhadap prospek pertumbuhan, dengan probabilitas resesi di AS meningkat hingga 50%, serta ekspektasi inflasi yang naik menjadi 3,5%,” ujarnya. “Saya tidak berpandangan bahwa resesi di AS merupakan hal yang tak terelakkan, karena struktur ekonomi yang masih cukup kuat, namun risikonya telah meningkat secara mengkhawatirkan,” imbuhnya.
Pemberlakuan tarif-tarif tersebut dilakukan pada saat tanda-tanda pelemahan mulai terlihat dalam perekonomian AS. Bulan lalu, para manajer investasi dan analis mengatakan kepada CNBC bahwa mereka memperkirakan perlambatan ekonomi mulai terlihat di depan mata, dengan risiko resesi mencapai titik tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Baca Juga
IMF: Kebijakan Tarif Trump Berisiko Signifikan pada Prospek Ekonomi Global
El-Erian memperkirakan ekonomi AS hanya akan tumbuh sebesar 1% hingga 1,5% tahun ini, yang merupakan penurunan signifikan dibandingkan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan sebesar 2,7%.
“Jika kita mendekati angka 1%, maka kita akan berada pada apa yang dikenal sebagai ‘stall speed (kecepatan menjadi mandek),” tambahnya. “Ekonomi tidak akan tumbuh cukup cepat untuk memungkinkan terjadinya realokasi sumber daya yang diperlukan. Jadi, jika kita mendekati angka 1%, yang saya harap tidak terjadi, maka risiko resesi akan meningkat secara signifikan.”
Selain memperingatkan kondisi ekonomi AS di tengah penerapan tarif, El-Erian juga menyatakan bahwa pasar saat ini masih meremehkan dampak inflasi dari kebijakan perdagangan Trump yang agresif.
“Reaksi pertama pasar adalah kekhawatiran terhadap pertumbuhan. Namun, kita belum melihat dua reaksi lainnya: apa yang akan terjadi terhadap pertumbuhan di negara-negara lain, dan bagaimana hal itu memmengaruhi arah dolar AS, serta bagaimana respons Federal Reserve nantinya?” ujarnya.
Data terbaru dari AS pekan lalu menunjukkan bahwa inflasi inti meningkat lebih tinggi dari ekspektasi, dengan indeks pengeluaran konsumsi pribadi inti (core PCE) — indikator inflasi utama bagi The Fed — mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Baca Juga
“Saya pikir jika kita beruntung, kita mungkin hanya akan mendapatkan satu kali pemangkasan suku bunga, bukan empat, dan saya tidak akan terkejut jika tidak ada pemangkasan sama sekali,” lanjut El-Erian.
“Jika The Fed bertindak seperti bank sentral normal — dan saya menekankan kata ‘normal’ karena saat ini The Fed tidak bertindak seperti itu — maka kecil kemungkinannya akan ada pemangkasan suku bunga.”
Pasar saat ini memperkirakan adanya empat kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed sepanjang tahun ini, menurut pelacak FedWatch dari CME Group. Dalam pertemuan terakhirnya pada bulan Maret, bank sentral mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25% hingga 4,5%, seraya menurunkan proyeksi pertumbuhan AS namun tetap memperkirakan dua kali pemangkasan hingga tahun 2025.
Segera setelah pengumuman tarif timbal balik oleh Trump, mata uang Eropa mencatat penguatan signifikan terhadap dolar AS. Nilai tukar euro dan pound sterling Inggris menyentuh level tertinggi dalam enam bulan terakhir terhadap dolar.
Meski demikian, El-Erian menyatakan bahwa dirinya tidak memperkirakan pelemahan dolar AS akan berlangsung dalam jangka panjang.
“Pasar telah bereaksi terhadap ekspektasi perlambatan pertumbuhan AS, penurunan suku bunga, dan arus modal yang lebih rendah ke AS, itulah sebabnya indeks dolar mengalami depresiasi. Saya rasa ini baru reaksi tahap pertama,” jelasnya. “Orang-orang nantinya akan menyadari bahwa jika AS melambat, maka negara-negara lain akan melambat lebih parah dibanding AS. Karena itu, saya tidak percaya bahwa pelemahan dolar akan terus berlanjut.”
Pada akhirnya, El-Erian mengatakan bahwa para ekonom masih terpecah pandangannya mengenai dampak jangka panjang dari penerapan tarif impor dalam skala besar terhadap perekonomian AS maupun global.
“Meskipun terdapat konsensus bahwa tarif akan menimbulkan rasa sakit dalam jangka pendek, belum ada kesepakatan mengenai potensi keuntungan dalam jangka panjang,” tutupnya.

