Harap-harap Cemas Menunggu Pengumuman Tarif Trump, Sebuah Gong Perang Dagang Global Dimulai?
WASHINGTON, Investortrust.id - Detik-detik jelang pengumuman tarif besar-besaran baru oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang digaungkan lewat tema "Liberation Day" pada Rabu (2/4/2025), perihal negara mana saja yang akan menjadi sasaran tarif dan seberapa besar tarif yang akan diterapkan, tetap tersembunyi rapat di balik sakunya. Begitu banyak kalagan amat khawatir bahwa apa yang akan disampaikan Trump Kamis dini hari ini (WIB), bakal memicu perang dagang global.
Trump akan mengungkap kebijakan ini di Taman Mawar Gedung Putih pada pukul 16.00 waktu setempat. Dilaporkan CNA News, ia akan didampingi anggota kabinetnya saat mengumumkan kebijakan tersebut. Ia menjanjikan bahwa kebijakan ini akan mencegah Amerika terus "dirugikan" dan akan membawa "zaman keemasan baru" bagi industri AS.
Namun, meskipun Trump menegaskan bahwa ia telah memutuskan retaliasi tarif untuk negara-negara yang dianggap merugikan Amerika Serikat, Gedung Putih mengakui bahwa ia masih merampungkan detail kebijakan ini kurang dari 24 jam sebelum pengumuman.
Pada Rabu pagi, Trump memposting pesan singkat dalam huruf kapital di jejaring sosialnya, Truth Social: "Ini adalah Hari Pembebasan di Amerika!"
Sebagai seorang Republikan, Trump telah lama mendukung kebijakan tarif, meyakini bahwa tarif adalah solusi terbaik untuk mengatasi defisit perdagangan AS dengan negara sahabat maupun musuh.
Baca Juga
Sementara itu para kritikus berpendapat bahwa justru konsumen AS yang akan paling terdampak, karena perusahaan impor kemungkinan akan meneruskan kenaikan biaya akibat tarif kepada pelanggan. Selain itu, tarif ini juga dapat meningkatkan risiko resesi yang merugikan baik AS maupun ekonomi global.
Pasar keuangan global telah bergejolak selama beberapa hari menjelang pengumuman Trump, sementara negara-negara yang kemungkinan besar akan terkena dampaknya telah menyerukan pembicaraan—bahkan saat mereka bersiap untuk membalas dengan kebijakan serupa.
Langkah ini juga semakin menegaskan perbedaan yang semakin dalam antara pemerintahan Trump dan sekutu-sekutunya, tidak hanya dalam kebijakan perdagangan tetapi juga dalam keamanan, pertahanan, dan berbagai isu lainnya.
Trump mengisyaratkan kebijakan ini selama beberapa pekan. Awalnya ia menyatakan bahwa tarif hanya akan menyamai bea masuk yang dikenakan negara lain terhadap AS.
Pada Senin, ia hanya mengatakan bahwa kebijakan ini akan "sangat baik hati" tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Menjelang tenggat waktu, media AS melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan opsi untuk menerapkan tarif 20% secara menyeluruh atau memberikan perlakuan khusus kepada beberapa negara.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa Trump sedang bertemu dengan penasihat utamanya untuk "menyempurnakan kebijakan ini agar menjadi kesepakatan yang sempurna."
Ia menambahkan bahwa tarif akan berlaku "segera" setelah pengumuman pada hari Rabu—yang berarti negosiasi dengan negara lain kemungkinan besar tidak akan menunda penerapannya.
Baca Juga
Donald Trump Main Tarif Impor, Indonesia Perlu Siapkan Strategi Diversifikasi
Trump sebelumnya telah beberapa kali menunda penerapan tarif terhadap sekutu seperti Kanada dan Meksiko. Namun, rencana terbarunya telah menimbulkan kekhawatiran besar tentang kemungkinan perang dagang yang dapat menyebabkan lonjakan harga dan gangguan ekonomi luas.
Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, memperingatkan pada Rabu bahwa dampak dari kebijakan ini akan "mengguncang dunia perdagangan seperti yang sudah kita ketahui."
Di sisi lain, beberapa negara ekonomi utama, termasuk Uni Eropa dan Kanada, telah bersumpah untuk membalas kebijakan ini. "Kami akan sangat berhati-hati dalam mengambil langkah-langkah untuk melindungi Kanada," kata Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, pada Selasa (1/4/2025).
Uni Eropa, yang dituduh Trump mencoba "menipu" Amerika Serikat, menyatakan bahwa mereka masih berharap untuk bernegosiasi tetapi siap mengambil tindakan balasan "dengan semua instrumen yang tersedia."
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, berbicara dengan Trump mengenai "negosiasi produktif" untuk perjanjian perdagangan antara AS dan Inggris. Sementara itu, Vietnam mengumumkan pada Selasa bahwa mereka akan memangkas tarif pada berbagai produk untuk menenangkan Trump.
Sedangkan negara-negara eksportir utama sedang berusaha memperkuat aliansi untuk menghadapi kebijakan AS ini. China, Jepang, dan Korea Selatan mempercepat pembicaraan untuk membentuk perjanjian perdagangan bebas.
Meksiko bahkan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonominya untuk tahun 2025, dengan alasan ketegangan perdagangan dengan AS sebagai faktor utama.
Di pasar keuangan, spekulasi tentang kebijakan Trump telah memicu ketidakpastian. Ekonom HSBC yang dipimpin Max Kettner memperingatkan bahwa pengumuman pada Rabu malam ini mungkin tidak akan menyelesaikan ketidakpastian tarif.
"Kami berpendapat bahwa kemungkinan besar tenggat waktu 2 April ini justru akan memperburuk ketidakpastian—dan memperpanjang periode lemahnya indikator ekonomi utama," kata mereka.
Trump, yang sebelumnya adalah seorang pengusaha properti, bersikeras bahwa tarif akan membawa "kebangkitan kembali" kapasitas manufaktur Amerika yang telah lama tergerus, dan menyatakan bahwa perusahaan dapat menghindari tarif dengan memindahkan produksinya ke AS.
Tarif impor mobil sebesar 25% juga dijadwalkan mulai berlaku pada Kamis (3/4/2025). Tarif 25% untuk baja dan aluminium dari seluruh dunia telah diberlakukan sejak pertengahan Maret.
China terkena tarif tambahan 20% pada semua barang sejak Maret, yang kemudian dibalas oleh Beijing dengan bea masuk terhadap produk-produk AS. Uni Eropa juga telah mengumumkan kebijakan balasan yang akan mulai berlaku pertengahan April.
Sementara itu Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual kepada Bagus Kasanjanu dari Investortrust menyampaikan, jika pada malam ini Trump benar-benar menerapkan tarif seperti yang telah diperkirakan banyak pihak, maka akan ada risiko yang bakal dialami di Tanah Air. salah satunya adalah tren sentimen negatif di pasar modal akan berlanjut. Tak cuma pasar modal, sektor riil domestik pun akan ikut terdampak.
"Di sisi lain Inflasi AS akan tetap bertahan di level yang tinggi dan akan membuat bank sentral The Fed akan sulit menurunkan suku bunga. Indonesia tentu akan terpengaruh dari sisi lesunya perdagangan global, dan akan terdampak pada volume ekspor komoditas energi dan perkebunan," kata David salam pesan singkatnya.

