Donald Trump Main Tarif Impor, Indonesia Perlu Siapkan Strategi Diversifikasi
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mengumumkan tarif impor pada Rabu pukul 16.00 waktu setempat atau Kamis dini hari (3/4/2025) waktu Indonesia. Pengumuman yang disebut sebagai Hari Pembebasan atau Liberation Day itu disinyalir menjadi pemicu perang dagang global.
The Guardian melaporkan, Trump menyebut keputusan pemberian tarif impor bagi sejumlah negara yang surplus perdagangan dengan AS untuk mengembalikan sektor manufaktur AS. Selain itu, kebijakan ini dibuat sebagai respons kebijakan perdagangan yang menurutnya tidak adil, untuk meningkatkan penerimaan AS di sektor pajak, dan memberantas imigran ilegal, serta peredaran narkoba.
Juru Bicara Trump, Karoline Leavitt mengatakan Trump terus menyempurnakan rencana tarif perdagangan itu. Penyempurnaan draf tarif impor melibatkan tim dan memastikan keadilan bagi masyarakat dan pekerja AS.
Trump memberi sinyal, ide penerapan ‘tarif timbal balik’ akan menyasar sejumlah negara. Secara khusus, dia menyebut Korea Selatan, Brasil, India, dan Uni Eropa sebagai target potensial yang dikenai tarif impor.
“Dunia telah mengeksploitasi AS selama 40 tahun terakhir. Kami hanya ingin berlaku adil,” kata Trump, kepada NBC dilansir Rabu (2/4/2025).
Baca Juga
Jelang Keputusan Tarif Trump Hari Ini, Investor Tarik Jutaan Dolar dari ETF Bitcoin dan Ethereum
Indonesia juga perlu waspada. Pasalnya, Indonesia menempati peringkat ke-15 negara yang menyebabkan defisit bagi AS. Untuk mengantisipasinya, ekonom dan akademisi Universitas Andalas Sumatera Barat, Syafruddin Karimi mengatakan kebijakan tarif sekunder yang akan diterapkan AS terhadap pembeli minyak Rusia dan tarif resiprokal ke negara-negara penyebab defisit perdagangan AS bakal menciptakan tekanan baru bagi sistem perdagangan multilateral.
Karimi melihat Indonesia perlu segera mendiversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara besar seperti AS dan China. Selain itu, pemerintah perlu mereorientasi diplomasi dagang yang sekadar akses pasar menjadi perlindungan terhadap tekanan tarif.
“Perlu penguatan kerja sama regional dan Selatan-Selatan (South-South cooperation). Indonesia juga harus lebih hati-hati dalam menentukan asal-usul energi dan bahan baku industri, agar tidak terkena efek rambatan dari kebijakan sekunder AS,” kata Karimi kepada investortrust, Rabu (2/4/2025).
Selain Indonesia, Karimi juga memperhitungkan fragmentasi perdagangan antarkawasan yang semakin runcing dan politis. Pengenaan tarif berdasarkan afiliasi politik dan pilihan mitra dagang membuat perdagangan global tak lagi netral.
“Melainkan berbasis blok dan loyalitas,” jelas dia.
Baca Juga
Wall Street Volatil Jelang Peluncuran Tarif Trump, S&P 500 dan Nasdaq Menguat tapi Dow Turun Tipis
Dengan kata lain, menurut analisis Karimi, kebijakan tarif impor Trump bakal membuat terbentuknya blok perdagangan baru di luar pengaruh dolar dan AS, semisal Brasil, Rusia, India, China, South Africa (BRICS)+, Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dan Shanghai Cooperation Organization (SCO). Fragmentasi perdagangan ini membuat transaksi lintas kawasan yang berorientasi pada dedolarisasi.
“Khususnya oleh negara-negara yang merasa tertekan oleh ancaman tarif sekunder dan tarif balasan,” ujar dia.
Fragmentasi perdagangan juga menurunkan efektivitas WTO sebagai institusi penengah sengketa dagang karena tekanan ekonomi diganti dengan tekanan politik. Dengan optimisme, Karimi mengatakan fragmentasi ini bisa membuka peluang Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai penyeimbang strategis di tengah polarisasi global.
“Tetapi hanya jika diplomasi ekonominya adaptif dan independen,” ucap dia memberi catatan.

