Emas Kembali Cetak Rekor Tertinggi di Tengah Kekhawatiran Perang Dagang
NEW YORK, investortrust.id - Harga emas melonjak ke rekor tertinggi pada Jumat (28/03/2025). Investor beralih ke aset safe-haven di tengah kekhawatiran akan perang dagang global yang dipicu oleh tarif terbaru Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga
Pasar Eropa Babak Belur Dihantam Tarif Otomotif Trump, Saham Stellantis Anjlok 4%
Harga emas spot naik 0,7% menjadi $3.077,48 per ons pada pukul 13.06 GMT setelah menyentuh rekor tertinggi ke-18 tahun ini di $3.086,21 sebelumnya dalam sesi perdagangan. Emas batangan naik 1,8% minggu ini dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan keempat berturut-turut.
Kontrak berjangka emas AS naik 0,7% menjadi $3.083,20.
"Permintaan terhadap aset safe-haven terus meningkat karena kekhawatiran yang semakin besar terhadap tarif, perdagangan, dan ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung," kata Peter Grant, wakil presiden sekaligus ahli strategi logam senior di Zaner Metals, seperti dilansir CNBC.
Emas, yang secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan ekonomi dan politik, cenderung berkembang dalam lingkungan suku bunga rendah.
Baca Juga
Perang Dagang Global Memanas, Emas Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) naik 0,4% pada bulan Februari, dibandingkan dengan ekspektasi analis sebesar kenaikan 0,3%, serupa dengan kenaikan bulan Januari.
"Data ini kemungkinan tidak akan banyak mengubah ekspektasi pemotongan suku bunga, karena kenaikannya hanya sedikit lebih tinggi dari yang diperkirakan," tambah Grant.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Masih Proyeksikan Dua Pemangkasan Tahun Ini
The Fed telah mempertahankan suku bunga stabil sepanjang tahun ini setelah tiga kali pemotongan suku bunga pada 2024, tetapi mengisyaratkan kemungkinan pemotongan setengah poin persentase di akhir tahun.
Saat ini, pasar memperkirakan pemotongan suku bunga Fed sebesar 63 basis poin hingga akhir tahun, dimulai pada bulan Juli.
Pasar kini bersiap menghadapi rencana Trump untuk tarif timbal balik, yang akan dia umumkan pada 2 April.
Kebijakan Trump dianggap bersifat inflasioner, menimbulkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan ketegangan perdagangan, menurut para analis.

