Dibayangi Kekhawatiran Perang Dagang Global, Harga Emas Melonjak Tembus Rekor US$ 4.800
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga emas melonjak ke rekor baru di atas US$4.800 pada Rabu (21/1/2026). Emas memperpanjang reli tajam seiring investor mencari aset aman di tengah ancaman tarif dari Gedung Putih dan kembali menguatnya kekhawatiran akan perang dagang global.
Lonjakan ini kembali memicu perdebatan di kalangan investor mengenai seberapa jauh harga dapat naik setelah satu tahun yang luar biasa bagi logam mulia itu.
Baca Juga
Setelah mencetak rekor pada 2025, emas memasuki 2026 dengan momentum yang tetap terjaga. Para analis mengatakan ketegangan geopolitik, penurunan suku bunga riil, serta upaya investor dan bank sentral untuk mendiversifikasi portofolio menjauh dari dolar semakin mengukuhkan peran emas sebagai aset lindung nilai utama dunia.
Proyeksi harga semakin bullish. Analis yang disurvei oleh London Bullion Market Association (LBMA) memperkirakan harga akan naik melampaui US$5.000 tahun ini, dengan alasan ekspektasi penurunan suku bunga riil AS, pelonggaran berkelanjutan oleh Federal Reserve, serta diversifikasi bank sentral yang terus menjauh dari dolar.
“Emas tetap menjadi cerita utama setelah tahun 2025 yang memecahkan rekor,” sebut LBMA dalam survei proyeksinya.
Julia Du, analis strategi komoditas senior di ICBC Standard Bank, melihat harga emas berpotensi naik hingga US$7.150.
Goldman Sachs juga menegaskan kembali sikap bullish-nya, menyebut emas sebagai perdagangan dengan tingkat keyakinan tertinggi, didorong oleh perubahan profil pembeli logam tersebut.
“Emas tetap menjadi posisi long dengan keyakinan tertinggi kami atau skenario dasar kami, dengan harga pada akhir tahun ini sebesar US$4.900,” beber Daan Struyven, co-head riset komoditas global di Goldman Sachs, seperti dikutip CNBC.
Ia mencatat bahwa pembelian oleh bank sentral mendorong kenaikan pada 2023 dan 2024, sementara reli semakin cepat pada 2025 ketika permintaan dari sektor swasta meningkat.
Baca Juga
Kian Diminati, Transaksi Emas Digital di ICDX Tembus Rp 115,6 Triliun Pada 2025
“Investor swasta mulai melakukan diversifikasi ke emas melalui berbagai saluran,” katanya dalam jumpa media pada Rabu, dengan arus masuk ETF menjadi salah satu bukti jelas dari pergeseran tersebut, meski sulit memisahkan permintaan ritel dari arus institusional.
Menurut Goldman Sachs, permintaan tersebut sebagian besar berasal dari perusahaan pengelola kekayaan, manajer aset, hedge fund, dan investor dana pensiun.
Bagi banyak pendukung emas, geopolitik tetap menjadi latar belakang penentu. Nicky Shiels, kepala strategi logam di MKS PAMP, mengatakan siklus saat ini tidak menyerupai puncak spekulatif. Ia memperkirakan harga emas akan mencapai US$5.400 tahun ini.
“Tahun lalu bersifat historis, semacam peristiwa sekali dalam seratus tahun di seluruh logam mulia, di mana perak pada dasarnya hampir dua kali lipat. Emas naik 60%, jadi kita tidak akan melihat pengulangan kenaikan sebesar itu, tetapi US$5.400 berarti kenaikan solid sekitar 30% secara tahunan. Ini adalah perdagangan sekuler. Ini bukan puncak ledakan komoditas,” bebernya.
Ketegangan geopolitik, menurutnya, tidak memudar ke latar belakang. Titik panas terbaru, termasuk tindakan AS di Venezuela dan dorongan Washington untuk menegaskan kendali atas Greenland, justru semakin memperdalam pelarian investor ke emas.
“Terdapat permintaan kuat untuk mengamankan logam kritis dan komoditas kritis dalam dekade ini,” kata Shiels.

