India Terancam Tarif Tambahan Jika Pembicaraan Damai Trump-Putin Gagal
Poin Penting
* AS ancam naikkan tarif sekunder pada India jika diplomasi Trump–Putin gagal.
* Impor minyak Rusia India capai 35–40% pada 2024, naik dari 3% pada 2021.
* Tarif baru 50% dijadwalkan berlaku 27 Agustus, setara embargo dagang.
* Ketegangan bisa hambat sektor ekspor India dan potong pertumbuhan 0,5%.
WASHINGTON, investortrust.id - Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa Washington dapat meningkatkan tarif sekunder pada India. Ia mengatakan keputusan tersebut akan bergantung pada hasil pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat (15/8/2025).
Baca Juga
“Kami telah memberlakukan tarif sekunder pada India karena membeli minyak Rusia. Dan saya bisa membayangkan, jika pembicaraan tidak berjalan baik, maka sanksi atau tarif sekunder bisa meningkat,” kata Bessent dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Rabu (13/8/2025).
Awal bulan ini, Trump memberlakukan penalti 25% pada India, di samping tarif 25% untuk pembelian minyak dan senjata dari Rusia.
AS telah berupaya menengahi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina, dan pada Rabu, Trump memperingatkan “konsekuensi serius” jika Moskow tidak setuju dengan kesepakatan damai.
Trump dan Putin dijadwalkan bertemu di Anchorage pada Jumat untuk membahas cara mengakhiri perang di Ukraina.
“Presiden Trump bertemu dengan Presiden Putin, dan pihak Eropa di belakang panggung mengeluh tentang bagaimana dia harus melakukannya, apa yang harus dia lakukan. Eropa harus bergabung dengan kami dalam sanksi ini. Eropa harus bersedia menerapkan sanksi sekunder ini,” tegas Bessent.
Lonjakan impor minyak mentah murah Rusia oleh India sejak perang Ukraina telah menegangkan hubungan India–AS dan mengganggu pembicaraan dagang yang sedang berlangsung dengan Washington.
Minyak Rusia menyumbang 35–40% dari impor minyak India pada 2024 — naik dari 3% pada 2021.
Baca Juga
Trump Tekan India, Kenakan Tarif Tertinggi 50% Gara-gara Minyak Rusia
Delhi membela pembelian minyak Rusia, dengan alasan bahwa sebagai importir energi besar, India harus membeli minyak mentah termurah yang tersedia untuk melindungi jutaan warga miskin dari kenaikan biaya.
Komentar Bessent muncul setelah ia menyebut India “agak keras kepala” dalam negosiasi perdagangan pada wawancara dengan Fox Business pada Selasa.
Trump mengatakan tarifnya merupakan bagian dari rencana pemerintahannya untuk meningkatkan ekonomi AS dan membuat perdagangan global lebih adil.
Ia berulang kali menyebut India sebagai penyalahguna tarif dan ingin memangkas defisit perdagangan AS sebesar US$45 miliar dengan ekonomi terbesar ketiga di Asia itu.
Dilansir BBC, negosiasi perdagangan antara Delhi dan Washington telah berlangsung selama beberapa bulan, dan akan dilanjutkan dengan kedatangan negosiator AS di India pada 25 Agustus.
Namun para ahli mengatakan penolakan India untuk menurunkan bea pada produk pertanian dan susu menjadi penghalang utama dalam negosiasi.
Tarif baru Trump sebesar 50% pada India dijadwalkan berlaku 27 Agustus, yang menurut beberapa ahli setara dengan embargo perdagangan antara kedua negara.
Langkah ini menjadikan India mitra dagang AS dengan tarif tertinggi di Asia dan diperkirakan akan sangat menghambat industri berorientasi ekspor seperti tekstil dan perhiasan, serta dapat menurunkan pertumbuhan India hingga setengah persen.

