Wall Street Bangkit Dipicu Data Inflasi, Indeks Nasdaq Melesat di Atas 1%
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS menguat Rabu waktu AS atau Kamis (13/03/2025) WIB. Indeks Nasdaq Composite melonjak. Laporan inflasi yang rendah meredakan kekhawatiran tentang ekonomi dan investor memborong saham teknologi.
Indeks Nasdaq melesat 1,22% dan ditutup pada 17.648,45, sementara S&P 500 menguat 0,49% menjadi 5.599,30. Dow Jones Industrial Average justru turun 82,55 poin, atau 0,2%, menjadi 41.350,93.
Baca Juga
Wall Street Bergolak Dipicu Ketidakpastian Tarif Trump, Dow Terjun Lebih dari 450 Poin
Meskipun sektor teknologi mengalami penurunan lebih dari 3% sepanjang minggu ini, sektor tersebut bangkit kembali pada hari Rabu dan mendorong S&P 500 lebih tinggi. Nvidia melonjak 6,4%, AMD naik lebih dari 4%, Meta Platforms menguat 2%, dan Tesla melesat lebih dari 7%.
Indeks harga konsumen (CPI), yang mengukur biaya secara luas di ekonomi AS, naik 0,2% dalam sebulan, dengan tingkat inflasi tahunan mencapai 2,8%. Angka ini lebih rendah dari perkiraan Dow Jones sebesar 0,3% dan 2,9%. CPI inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi yang bergejolak, naik 0,2% dalam sebulan dan 3,1% dalam 12 bulan terakhir, keduanya di bawah ekspektasi.
Baca Juga
"Pembacaan ini sedikit melemahkan narasi stagflasi dan mengembalikan fleksibilitas kebijakan dari The Fed. Jika angka inflasi ini lebih tinggi, kekhawatiran tentang The Fed yang tidak dapat merespons jika ekonomi terus melemah, akan jauh lebih besar," beber Dave Grecsek, Managing Director di bidang strategi investasi dan penelitian di Aspiriant Wealth Management, seperti dikutip CNBC.
Tarif baja dan aluminium yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump mulai berlaku pada hari Rabu, dan Kanada mengumumkan akan memberlakukan tarif balasan sebesar 25% pada barang-barang AS senilai lebih dari $20 miliar. Uni Eropa juga merespons dengan cepat, berjanji untuk mengenakan tarif balasan terhadap barang impor AS senilai €26 miliar ($28,33 miliar) mulai April.
Baca Juga
Pasar saham berada di bawah tekanan karena trader khawatir ketegangan yang meningkat dapat memicu resesi di AS. Sebagian alasan penjualan besar-besaran baru-baru ini adalah kekhawatiran bahwa kebijakan perdagangan Trump yang tidak stabil akan meningkatkan inflasi dan memperlambat pertumbuhan, yang dikenal sebagai stagflasi.
Dalam minggu ini saja, Dow, S&P 500, dan Nasdaq masing-masing telah turun sekitar 3%. S&P 500 sempat memasuki wilayah koreksi pada hari Selasa, turun 10% dari rekor yang dicapai pada Februari. Dalam sebulan terakhir, S&P 500 kehilangan lebih dari 7%, sementara Dow dan Nasdaq masing-masing turun 6,8% dan 10,2%.
"Kami tidak terkejut pasar mengalami koreksi. Jelas, pasar ekuitas AS telah sangat kuat selama dua tahun terakhir. Adalah hal yang wajar untuk mengharapkan koreksi, Namun, saya pikir begitu kita melewati ini, akan ada kabar baik yang datang," tambah Grecsek.

