China Hadapi Tekanan Deflasi yang Makin Dalam
BEIJING, Investortrust.id Indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) China pada bulan Februari meleset dari perkiraan dan mengalami penurunan terbesar dalam 13 bulan, sementara deflasi harga produsen terus berlanjut. Defrlasi dan turunnya IHK terjadi karena permintaan musiman yang mereda serta sikap hati-hati rumah tangga dalam membelanjakan uangnya di tengah kekhawatiran akan potensi akan kehilangan pekerjaan dan pendapatan.
Pekan lalu, Beijing berjanji akan meningkatkan upaya untuk mendorong konsumsi di tengah meningkatnya perang dagang dengan Amerika Serikat. Namun, para analis memperkirakan tekanan deflasi di negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia ini masih akan terus berlanjut.
Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2025 sekitar 5%, tidak berubah dari tahun lalu. Sementara target inflasi tahunan ditekan menjadi sekitar 2% dari sebelumnya sekitar 3% persen.
Dilansir Biro Statistik Nasional China (NBS) yang dirilis pada hari Minggu (9/3/2025), IHK Februari China tercatat turun 0,7% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, berbalik dari kenaikan 0,5% pada Januari.
Ini merupakan kontraksi pertama dalam indeks tersebut sejak Januari 2024 dan lebih buruk dari perkiraan penurunan 0,5% dalam jajak pendapat ekonom oleh Reuters.
"Ekonomi China masih menghadapi tekanan deflasi. Meskipun sentimen membaik berkat perkembangan di sektor teknologi, permintaan domestik tetap lemah," kata Zhiwei Zhang, presiden dan kepala ekonom di Pinpoint Asset Management.
Baca Juga
Harga Minyak Melemah Dipicu Pesimisme Tercapainya Target Ekonomi China
Dengan ekspor yang menghadapi risiko akibat perang dagang, kebijakan fiskal perlu menjadi lebih proaktif, tambahnya, mencatat bahwa sektor properti China juga masih kesulitan.
"Kebijakan moneter juga perlu lebih dilonggarkan melalui pemotongan suku bunga dan rasio syarat pencadangan, sebagaimana yang diindikasikan dalam laporan kerja pemerintah."
Indeks IHK inti, yang tidak mencakup harga makanan dan bahan bakar yang bergejolak, turun 0,1% pada Februari, penurunan pertama sejak Januari 2021.
Harga makanan turun 3,3% bulan lalu, berbanding kenaikan 0,4% pada Januari. Perayaan Tahun Baru Imlek, hari libur tahunan terbesar di China, berlangsung pada akhir Januari tahun ini dibandingkan Februari tahun lalu, menyebabkan harga makanan dan layanan terkait wisata lebih tinggi pada Januari.
Statistisi NBS, Dong Lijuan, dalam sebuah catatan pada hari Minggu mengatakan bahwa tingginya basis IHK Februari tahun lalu menyebabkan penurunan indeks bulan lalu: "Jika mengesampingkan dampak perbedaan bulan perayaan Tahun Baru Imlek, IHK naik 0,1% secara tahunan pada Februari."
Secara bulanan, IHK turun 0,2%, dibandingkan kenaikan 0,7% pada Januari dan lebih rendah dari perkiraan penurunan 0,1%.
Untuk menghidupkan kembali permintaan rumah tangga yang lesu, China telah menggandakan alokasi dana untuk program subsidi konsumen yang diperluas, mencakup kendaraan listrik, peralatan rumah tangga, dan barang lainnya, menjadi 300 miliar yuan (US$41,42 miliar) tahun ini.
Namun, langkah-langkah yang lebih mendasar untuk mengatasi sistem kesejahteraan yang belum lengkap masih memerlukan waktu, sehingga konsumen dan bisnis tetap berhati-hati dalam membelanjakan uang di tengah pemulihan ekonomi yang tersendat.
Baca Juga
Imbas Tarif Trump, Ekspor China Anjlok Jauh di Bawah Ekspektasi
Masalah utama terletak pada "kapasitas konsumsi yang lemah dan kurangnya keinginan untuk berbelanja," kata Menteri Perdagangan Wang Wentao pada Kamis (6/3/2025) di sela-sela pertemuan parlemen tahunan seperti dikutip CNAnews.
Dalam laporan kerja pemerintah yang diumumkan pada 5 Maret tahun ini, kata "konsumsi" disebutkan sebanyak 31 kali, naik dari 21 kali tahun lalu, melampaui referensi terhadap teknologi.
Indeks harga produsen turun 2,2% secara tahunan pada Februari, sedikit membaik dari penurunan 2,3% pada Januari dan merupakan kontraksi terkecil dalam enam bulan, tetapi masih meleset dari proyeksi penurunan 2,1%. Indeks Harga produsen di China telah mengalami penurunan sejak September 2022.
Ancaman tarif global dan kelebihan kapasitas industri di dalam negeri mendorong para eksportir China ke dalam perang harga di seluruh dunia, memaksa banyak dari mereka untuk menurunkan harga produk dan upah pekerja.

