Wall Street Menguat, tapi S&P 500 Catat Pekan Terburuk Sejak September
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS menguat pada Jumat waktu AS atau Sabtu (08/03/2025) WIB. Indeks S&P 500 berhasil pulih sebagian, tetapi indeks ini masih mencatatkan minggu terburuk dalam beberapa bulan terakhir karena aksi kebijakan perdagangan Trump membuat investor gelisah.
Indeks S&P 500 naik 0,55% menjadi 5.770,20, sementara Nasdaq Composite menguat 0,7% menjadi 18.196,22. Dow Jones Industrial Average bertambah 222,64 poin, atau 0,52%, untuk ditutup pada 42.801,72.
Baca Juga
Wall Street Turun Tajam di Tengah Ketidakpastian Tarif, Dow Jones Merosot Lebih dari 400 Poin
Perdagangan pada hari Jumat berlangsung volatil, dengan Dow sempat anjlok lebih dari 400 poin pada titik terendah sesi sebelum reli pada sore hari. S&P 500 dan Nasdaq keduanya turun lebih dari 1% pada titik terendah perdagangan hari itu.
Meskipun ada pemulihan pada hari Jumat, S&P 500 mencatatkan minggu terburuk sejak September dengan penurunan 3,1%. Dow, sementara itu, turun 2,4% dalam minggu ini. Nasdaq Composite anjlok 3,5% dalam seminggu terakhir, di mana indeks yang didominasi sektor teknologi ini memasuki wilayah koreksi—yang berarti turun 10% dari level tertinggi terbarunya.
Investor mengabaikan laporan pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan yang dirilis pada hari Jumat, yang semakin meningkatkan kekhawatiran tentang pelemahan ekonomi dan sempat membuat imbal hasil obligasi turun. Jumlah pekerjaan nonpertanian meningkat sebanyak 151.000 pada Februari, lebih rendah dari perkiraan konsensus sebesar 170.000 oleh ekonom yang disurvei oleh Dow Jones.
Tingkat pengangguran naik menjadi 4,1%.
Kekhawatiran Pertumbuhan dan Inflasi
Pekan ini, pasar saham mengalami perjalanan roller-coaster dengan kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang memicu kekhawatiran investor mengenai pertumbuhan dan inflasi AS di masa depan. Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa sejumlah barang dari Kanada dan Meksiko yang termasuk dalam perjanjian perdagangan Amerika Utara (USMCA) akan dikecualikan dari tarif yang diumumkan hingga 2 April.
Baca Juga
Trump Beri Pengecualian Tarif Satu Bulan bagi Produsen Mobil
Langkah ini secara efektif membatalkan sebagian besar rencana awal mengenai tarif terhadap kedua negara tersebut, serta China. Namun, pasar tetap mengalami aksi jual minggu ini, dengan ketidakpastian yang terus meningkat akibat pembaruan kebijakan yang konstan dan kurangnya kejelasan mengenai prospek jangka panjang.
“Pasar tidak menyukai ketidakpastian,” kata Glen Smith, Kepala Investasi di GDS Wealth Management, seperti dikutip CNBC. Ia memperkirakan pasar akan menemukan pijakannya dan pulih dari aksi jual akibat tarif, tapi mengingatkan investor harus bersiap untuk volatilitas yang berkelanjutan hingga ketidakpastian ini mereda.
Menteri Keuangan Scott Bessent mengakui kepada CNBC pada hari Jumat bahwa ekonomi bisa mulai “melambat sedikit.” Namun, ia mengatakan bahwa itu disebabkan oleh transisi dari kebijakan pemerintahan sebelumnya. Bessent menegaskan bahwa tarif yang diberlakukan hanya akan menjadi “penyesuaian harga satu kali” dan tidak akan memicu inflasi jangka panjang.

